Thursday, 22 October 2015

Menangis sejuk

Reuters
Ljubljana (Slovenia): Kira-kira 3,500 migran menghabiskan malam tidur di dalam cuaca sejuk di Berkasovo-Bapska, bandar sempadan Serbia dan Croatia selepas Croatia menutup pintu sempadannya untuk mengehadkan jumlah pendatang memasuki negara itu.

Warga Syria, Sayed yang berasal dari Damsyik berkata: “Wanita dan bayi menangis. Kami membakar unggun api, tetapi cuaca tetap sejuk. Tiada siapapun memberi kami makanan. Yang ada cuma sedikit roti.”


Sempadan itu ialah antara lokasi baru yang dituju migran yang melarikan diri dari peperangan dan kemiskinan di Asia Barat dan Afrika untuk ke Eropah.

Hungary menutup sempadannya dengan Croatia minggu lalu untuk menghalang migran memasuki negara itu dengan menggunakan pagar besi dan kawad berduri.

Croatia mula menghalakan pendatang berkenaan ke Slovenia yang turut berusaha mengekang kemasukan mereka sementara pendatang itu berusaha mencari laluan baru merentasi rantau Balkan sebelum dapat menjejaki Eropah.

Lebih 20,000 migran tiba di Slovenia sejak pagi Sabtu lalu dalam usaha untuk ke Austria.

Parlimen Slovenia meluluskan undang-undang Rabu lalu yang memberi kuasa kepada tentera untuk membantu polis mengawal sempadan negara itu.

Agensi bantuan bimbang dengan jumlah migran yang semakin ramai terperangkap di rantau Balkan, lebih-lebih lagi dengan keadaan cuaca yang semakin sejuk disebabkan musim luruh yang bakal berubah dingin tidak lama lagi.

Pelarian yang bermalam di sempadan Berkasovo-Bapska, sama ada dalam khemah atau di bawah tarpal yang disediakan kumpulan bantuan, terpaksa membakar unggun api untuk memanaskan badan.

Astrid Coyne-Jensen dari pasukan perubatan Danish People’s Aid berkata: “Keadaan memang terlalu sejuk dan malam tadi (kelmarin) antara yang paling sibuk bagi kami minggu ini.”

Mustafa, 30-an, yang berselubung dengan selimut tebal berkata, tiga keluarga dalam kumpulannya terpaksa tidur di bawah tarpal kerana khemah yang disediakan tidak cukup.

“Saya dari Hama di Syria. Ada keluarga saya berada di Turki. Saya akan memberitahu mereka supaya tidak datang ke sini.

“Keadaan ini tidak sesuai untuk manusia. Ia lebih sesuai untuk binatang,” katanya.

Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 22 Oktober 2015 @ 6:46 AM

SEKUMPULAN migran membakar unggun api untuk memanaskan badan di Berkasovo, Serbia.
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/87035#sthash.zoyFtYB5.dpuf

Syria nafi askar Russia terbabit serangan darat


Amman: Tentera Syria menafikan laporan tentera darat Russia bertempur bersama askarnya dan menegaskan Moscow hanya memberi bantuan serangan udara.

Agensi berita rasmi Syria, SANA melaporkan, satu sumber tentera memberitahu, dakwaan askar Russia terbabit dalam operasi di darat adalah tidak berasas dan hanya propaganda.

Katanya, operasi tentera udara Russia yang masuk minggu ketiga menyasarkan tempat persembunyian penentang, pusat pemerintahan dan simpanan senjata.

Satu sumber tentera memberitahu Reuters kelmarin, sekurang-kurangnya tiga askar Russia terbunuh ketika bertempur dengan tentera Syria dan beberapa lagi cedera selepas terkena bedilan meriam di Latakia.

Ketua Pemantau Syria untuk Hak Asasi Manusia, Rami Abdulrahman memberitahu, sumber di kawasan itu mengesahkan kejadian berkenaan, tetapi tidak mengetahui berapa ramai askar Russia maut.

Rami berkata, dia percaya askar Russia yang terbunuh itu mungkin anggota sukarela.

Bagaimanapun, Kementerian Pertahanan Russia menafikan ada askar negara itu terbunuh di Syria. - Reuters

Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 22 Oktober 2015 @ 6:58 AM


SEORANG pejuang penentang melepaskan tembakan dalam satu pertempuran berhampiran Gunung Azzan pada Sabtu lalu.

Bashar bertemu Putin


Bashar bertemu Putin

22 OKTOBER 2015
Bashar bertemu Putin Putin (kanan) bersalaman dengan Bashar ketika mesyuarat di Kremlin di Moscow, kelmarin.

MOSCOW - RUSIA . Presiden Syria, Bashar al-Assad, kelmarin membuat lawatan mengejut untuk bertemu dengan rakan sejawatannya, Vladimir Putin di ibu negara Rusia bagi membincangkan situasi yang semakin meruncing di negara bergolak itu.

Jurucakap Kremlin, Dmitry Peskov berkata Bashar turut memaklumkan kepada sekutu kuatnya mengenai rancangan tentera kerajaan untuk memerangi kumpulan militan di Damsyik.
"Agenda utama mesyuarat dapat difahami dengan jelas kerana pertemuan itu turut disertai pembuat dasar Rusia," katanya.

Difahamkan, Putin juga menyatakan bahawa Moscow bersedia untuk memerangi keganasan secara bersama malah mereka mahu mencari penyelesaian politik kepada krisis yang berlarutan selama empat tahun di negara tersebut.

Menurut pemimpin itu, kira-kira 4,000 warga negara bekas Kesatuan Soviet itu dipercayai menyertai perjuangan kumpulan militan termasuk IS di Syria.

"Kerajaan tidak akan sesekali membenarkan mereka kembali semula ke negara ini," tegasnya.

Sementara itu, Bashar turut mengalu-alukan operasi ketenteraan dilancarkan Rusia yang menyasarkan kedudukan militan di Syria.

"Saya ingin merakamkan setinggi-tinggi penghargaan kepada seluruh kepimpinan Moscow kerana turut sama memerangi militan di Damsyik," menurutnya. - AFP

Rumah sakit lapangan di Suriah dihantam serangan Rusia, 13 orang termasuk staf medis gugur

Rumah sakit lapangan di Suriah dihantam serangan Rusia, 13 orang termasuk staf medis gugur
Anggota pertahanan sipil Suriah membawa bayi yang terluka yang diselamatkan dari bawah puing-puing dalam serangan udara oleh rezim Nushairiyah di kota Marshamsha di Idlib pada 20 Oktober 2015. (Foto: Reuters) 
SARMIN (Arrahmah.com) – Sedikitnya 13 orang termasuk staf medis dilaporkan gugur ketika jet tempur Rusia menyerang rumah sakit lapangan di barat daya Suriah, menurut laporan kelompok pemantau.

“Tiga belas orang tewas dalam serangan udara Rusia pada Selasa di klinik lapangan di kota Sarmin, termasuk seorang fisioterapis, penjaga dan anggota pertahanan sipil,” ujar Rami Abdurrahman, Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) kepada AFP.

Sarmin terletak di provinsi barat laut Idlib, yang telah secara rutin ditargetkan oleh militer komunis Rusia sejak awal kampanye udara mereka di Suriah pada 30 September lalu.

Klinik dijalankan oleh Komunitas Medis Suriah-Amerika (SAMS) yang staf nya mengatakan bahwa serangan telah mengakibatkan fasilitas tersebut rusak parah.

“Kemarin sekitar pukul 13.00 fasilitas SAMS dekat Sarmin, Idlib telah dihantam,” ujar staf SAMS mengatakan kepad AFP pada Rabu (21/10/2015).

“Laporan awal kami dari lapangan menunjukkan bahwa kami telah kehilangan dua staf, seorang fisioterapis dan perawat,” lanjutnya dalam pernyataan yang dikirimkan melalui surat elektronik.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada Rabu (21/10) bahwa angkatan udaranya telah menargetkan Sarmin, namun menolak menyebutkan apakah rumah sakit juga menjadi target sasaran.

Sejak akhir September, Rusia telah melakukan lebih dari 500 serangan di Suriah yang diklaim menargetkan pejuang Daulah Islam (dulu dikenal dengan ISIS).

Namun ternyata serangan-serangan Moskow menargetkan faksi lainnya dan menimbulkan korban sipil.

Pada Selasa (20/10), laporan SOHR mengatakan sedikitnya 127 dari 370 orang yang tewas dalam serangan udara pengecut oleh Rusia adalah warga sipil.

Sementara itu, wartawan dan aktivis Suriah, Maamun Al-Khatib mengatakan kepada AFP bahwa serangan Rusia telah menghantam dua rumah sakit di provinsi Aleppo dalam seminggu. (haninmazaya/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/10/22/rumah-sakit-lapangan-di-suriah-dihantam-serangan-rusia-13-orang-termasuk-staf-medis-gugur.html#sthash.jw3aYEWR.dpuf

Serangan helikopter militer Libanon membunuh 9 pengungsi Suriah di kota perbatasan

Serangan helikopter militer Libanon membunuh 9 pengungsi Suriah di kota perbatasan

ARSAL (Arrahmah.com) – Dua pengungsi Suriah dilaporkan tewas dan tiga lainnya luka-luka di dekat kota perbatasan Libanon, Arsal, ketika helikopter militer Libanon menyerang tempat mereka berlindung, ujar sumber medis mengatakan kepada Zaman Alwasl pada Rabu (21/10/2015).

Aktivis telah mengecam keterlibatan Palang Merah dengan militer Libanon, mengatakan organisasi internasional tersebut telah menolak untuk mengobati mereka yang terluka.

Sehari sebelumnya (20/10), 7 pengungsi Suriah juga tewas dalam serangan udara oleh militer Libanon di Arsal.

Tentara Libanon selalu berdalih saat mereka menyerang pengungsi Suriah dengan mengatakan para pengungsi melindungi pejuang yang terkait dengan Al-Qaeda atau ISIS.

Arsal adalah kota terpadat di Libanon yang dipenuhi dengan pengungsi Suriah yang melarikan diri dari perang yang telah memasuki tahun kelima. (haninmazaya/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/10/22/serangan-helikopter-militer-libanon-membunuh-9-pengungsi-suriah-di-kota-perbatasan.html#sthash.AwGIS1sF.dpuf

Asad bertemu dengan Putin di Moskow

Asad bertemu dengan Putin di Moskow

MOSKOW (Arrahmah.com) – Presiden Suriah Bashar Asad melakukan kunjungan kejutan ke Moskow pada Selasa malam di mana ia bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, sebagaimana dilansir Middle East Eye, Rabu (21/10/2015).

Menurut pernyataan yang dikeluarkan kepada pers, Asad melakukan perjalanan ke Mokow untuk berterima kasih kepada Putin atas dukungannya dan atas peluncuran serangan udara atas Suriah.
Perjalanan Asad itu diyakini merupakan yang pertama kalinya sejak pecahnya perang di Suriah pada tahun 2011, menurut laporan Reuters
Rincian kunjungan itu diumumkan pada Rabu (21/10), dimana juru bicara Kremlin mengatakan bahwa Asad kini telah kembali ke Suriah.
“Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih saya yang besar kepada seluruh pimpinan Federasi Rusia atas bantuan yang mereka berikan kepada Suriah,” kata Asad kepada Putin, menurut sebuah transkrip Kremlin.
“Jika bukan karena tindakan dan keputusan Anda (Putin) “terorisme” yang menyebar di wilayah tersebut akan menelan daerah yang jauh lebih besar dan tersebar di area yang lebih besar,’ kata Asad.
Putin juga mengatakan bahwa orang-orang Suriah harus memutuskan nasib negara mereka.
Rusia memulai kampanye udara di Suriah pada akhir September setelah Asad meminta kepada sekutunya itu untuk campur tangan.
(ameera/arrahmah.com)

Wednesday, 21 October 2015

Presiden Syria kunjungi Putin di Moscow - Kremlin


PRESIDEN Russia, Vladimir Putin. - Foto AP
MOSCOW: Presiden Syria, Bashar al-Assad mengadakan lawatan mengejut ke Russia pada Selasa sebagai tanda terima kasih kepada Presiden Russia, Vladimir Putin yang membantu melancarkan serangan udara terhadap militan Islam di Syria.
Lawatan Bashar al-Assad ini juga adalah lawatan luar negara pertama bagi Presiden Syria itu.
Jurucakap Kremlin, Dmitri Peskov, berkata Bashar juga mengadakan perbincangan bersama rakan sejawatnya itu mengenai beberapa perkara.
"Petang semalam, Presiden Bashar al-Assad, telah mengadakan lawatan kerja ke Moscow," katanya namun dia tidak menyatakan sama ada Bashar masih di Moscow. - AFP

Puluhan ribu penduduk tinggalkan selatan Aleppo


Beirut: Puluhan ribu penduduk dilapor melarikan diri ke tempat lebih selamat berikutan serangan terbaru rejim Syria.

Pemindahan besar-besaran itu tertumpu di selatan Aleppo, bandar raya kedua terbesar Syria dan satu daripada lima kawasan yang menjadi sasaran serangan tentera Presiden Bashar al-Assad sejak Russia memulakan serangan udara 30 September lalu.

“Kira-kira 35,000 orang meninggalkan kediaman mereka di selatan Aleppo sejak beberapa hari lalu,” kata jurucakap Pejabat Penyelaras Hal Ehwal Kemanusiaan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (OCHA) Vanessa Huguenin.

Menurutnya, mereka amat memerlukan perlindungan, makanan dan air.

“Agensi bantuan memandang berat mengenai keadaan mereka memandangkan cuaca semakin sejuk,” katanya.

Lebih 250,000 orang terbunuh dan berjuta-juta penduduk terpaksa berpindah sejak sengketa bersenjata meletus di Syria pada Mac 2011. - Agensi

Artikel ini disiarkan pada : Rabu, 21 Oktober 2015 @ 6:54 AM

PENDUDUK Syria yang melarikan diri dari pertempuran di Aleppo berehat berhampiran kenderaan mereka di kawasan selamat, semalam, sementara menunggu masa untuk meneruskan perjalanan.
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/86733#sthash.vmV9PzcP.dpuf

Serangan Russia ragut 45 nyawa

Agensi
Beirut: Serangan udara Russia menyebabkan puluhan penduduk di barat laut Syria terbunuh, termasuk seorang ketua kumpulan penentang yang pernah berkhidmat dengan tentera Presiden Bashar al-Assad.

Kumpulan Pemerhati Syria bagi Hak Asasi berkata, serangan yang bermula petang Isnin lalu dan berlarutan selama beberapa jam mencederakan puluhan yang lain, menjadikannya serangan paling buruk sejak Russia mula melancarkan serangan udara hampir tiga minggu lalu.


Sejak serangan udara itu bermula, tentera Syria dan sekutu mereka, anggota Hizbullah dari Lubnan dan militan Syiah dari Iran, turut melancarkan serangan darat di utara, tengah dan selatan Syria serta kawasan pinggir Damsyik, menawan beberapa kawasan yang sebelum ini dikuasai penentang.

Ketua kumpulan pemerhati itu Rami Abdurrahman berkata, sekurang-kurangnya 45 orang terbunuh di Jabal al-Akrad, daerah di wilayah Latakia.

Daerah itu sebelum ini dikuasai penentang.

Sebuah lagi kumpulan pemerhati, Jawatankuasa Penyelaras Tempatan berkata, 57 orang terbunuh di wilayah itu kelmarin, kebanyakannya akibat serangan Russia.

Kedua-dua kumpulan berkenaan berkata, antara yang terbunuh ialah Basel Zommo, panglima Divisen Satu Pantai.

Basel adalah pegawai dalam tentera Bashar sebelum berpaling tadah menyertai kumpulan penentang beberapa tahun lalu.

“Tentera Russia memusnahkan semua kubu sebelum melancarkan serangan ke atas Jisr al-Shughour,” kata Rami, merujuk kepada bandar di barat laut Latakia yang ditawani penentang awal tahun ini.

Kumpulan itu yang memperoleh sumber daripada rangkaian aktivis di Syria berkata, ratusan serangan udara Russia sepanjang tiga minggu lalu menyebabkan 370 orang terbunuh, 36 daripadanya kanak-kanak dan 34 wanita.

Serangan itu turut mengorbankan 243 anggota pelbagai kumpulan penentang, termasuk Negara Islam dan sekutu al-Qaeda di Syria, Barisan al-Nusra.

Artikel ini disiarkan pada : Rabu, 21 Oktober 2015 @ 6:53 AM

- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/86729#sthash.EOZQ9lmW.dpuf

Bashar hilang kuasa jika majlis peralihan ditubuh

Sekeping gambar yang diambil pada 17 Oktober lalu, menunjukkan

Sekeping gambar yang diambil pada 17 Oktober lalu, menunjukkan kepulan asap ketika kumpulan penentang kerajaan memasuki kawasan Pergunungan Azzan, di Aleppo. AFP
RIYADH 20 Okt. – Presiden Sy­ria, Bashar al-Assad tidak boleh berkuasa di negara itu setelah sebuah majlis peralihan kuasa yang dianggotai pemimpin pembangkang dan kerajaan ditubuhkan, kata Menteri Luar Arab Saudi, Adel al-Jubeir, semalam.
“Kami telah memutuskan (perlu ditubuhkan majlis peralihan kuasa) dan selepas pembentukan majlis itu, Bashar perlu melepaskan jawatannya,’’ katanya dalam sidang media bersama rakan sejawatnya dari Jerman, Frank-Walter Steinmeier di sini.
Menteri Luar Jerman itu sedang dalam rangka lawatan kerja ke Arab Saudi selepas melawat Iran bagi mencari jalan menamatkan perang saudara di Syria.
Jerman telah mengambil kira-kira 600,000 pelarian dari Syria dan tempat lain sejak Januari lalu, ketika negara-negara Eropah bergelut menghadapi krisis pela­rian terbesar sejak tamat Perang Dunia Kedua.
“Sama ada peletakan jawatan itu berlaku hari ini, minggu ini atau mengambil tempoh sebulan, perkara itu diputuskan oleh rak­yat Syria (sendiri), namun sejak dari awal, adalah jelas Bashar tidak mempunyai masa depan lagi di Syria,’’ kata Jubeir.
Pembentukan majlis peralihan di Syria telah dicadangkan pada 2012 bagi mengendalikan pentadbiran di Syria dan melaksanakan proses pilihan raya.
Jubeir menjelaskan bahawa majlis itu boleh dibentuk di pejabat Bashar, namun selepas badan berkenaan ditubuhkan, beliau sudah tidak ada peranan lagi.
Steinmeier pada masa sama berkata, untuk jangka panjang, tidak nampak ada penyelesaian selagi Bashar berkuasa, ditambah dengan pembabitan tentera Rusia yang menyulitkan lagi keadaan.
“Kita tidak akan mencari penyelesaian pada peringkat awal, maka perang ke atas kumpulan militan Negara Islam (IS) perlu diteruskan sementara meneruskan proses transformasi politik di Syria,’’ katanya.
Dalam perkembangan berasingan, sekurang-kurangnya 45 orang terbunuh dalam gelombang serangan udara tentera Rusia di utara wilayah Latakia yang menjadi kubu kuat tentera kerajaan, semalam.
Pengarah Badan Pemantau Hak Asasi Syria berkata, Rami Abdel Rahman berkata, serangan udara tentera Rusia dilancarkan di daerah Jabal al-Akrad, petang semalam.
“Antara yang terbunuh adalah orang awam, namun kami tidak mempunyai angka yang tepat,’’ kata Rami.– AFP
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/bashar-hilang-kuasa-jika-majlis-peralihan-ditubuh-1.148807#sthash.Fqu7UKEM.dpuf

Tuesday, 20 October 2015

Cuba nafi hantar tentera ke Syria


Cuba nafi hantar tentera ke Syria

19 OKTOBER 2015
Cuba nafi hantar tentera ke Syria Cuba menyangkal laporan yang mendakwa negara itu menghantar tentera sebagai sokongan kepada rejim Bashar

HAVANA - CUBA. Kerajaan Cuba, kelmarin menafikan laporan yang mendakwa negara itu menghantar tentera ke Syria sebagai tanda sokongan kepada rejim Presiden Bashar al-Assad dan campur tangan Rusia dalam konflik negara itu.

Kenyataan itu dikeluarkan jurucakap Kementerian Luar, Gerardo Penalver yang menyangkal tuduhan yang disifatkan sebagai tidak berasas lapor Reuters.

Selasa lalu, Institut Penyelidikan Cuba-Amerika di Universiti Miami mendedahkan laporan tidak sah diperoleh daripada sumber pegawai Amerika Syarikat (AS) bahawa tentera Cuba dilihat berada di Damsyik.

Susulan daripada itu, jurucakap Rumah Putih mengeluarkan kenyataan balas dengan menegaskan Washington tidak melihat sebarang bukti yang menunjukkan kebenaran laporan tersebut.

Difahamkan, kali terakhir Cuba menghantar bantuan ketenteraan kepada negara luar adalah di Angola dan Ethiopia pada 1970-an serta 1980-an.

Slovenia hadkan kemasukan migran


Slovenia hadkan kemasukan migran

20 OKTOBER 2015
Slovenia hadkan kemasukan migran Anggota polis membantu migran ketika menyeberangi sempadan Slovenia dan Austria, semalam. - Foto AFP

LJUBLJANA - SOLVENIA. Kerajaan Slovenia menurunkan jumlah pelarian yang memasuki negara itu kepada 2,500 sehari, iaitu separuh daripada bilangan dipersetujui sebelum ini dengan negara jiran Croatia.

Kelmarin, Menteri Dalam Negeri Slovenia Bostjan Sefic berkata, negaranya tidak boleh menerima rayuan Croatia untuk menerima 5,000 pemohon suaka sehari dengan alasan bahawa had harian pelarian ke Austria adalah seramai 1,500 orang.

"Jika kami menerima 5,000 pendatang sehari, ia bermaksud 35,000 migran akan berada di negara ini dalam tempoh 10 hari. Ia tidak boleh diterima," katanya.

Menurut laporan media tempatan, Slovenia tidak mempunyai ruang cukup di kem transit terutamanya yang dibina untuk pelarian sejak awal tahun ini.

Awal minggu ini, Croatia dan Slovenia bersetuju untuk membuka sempadan sama seperti yang dilakukan oleh Jerman dan Austria.

Langkah itu dibuat selepas Hungary menutup sempadannya dengan Crotia dalam usaha bagi menghentikan kemasukan sejumlah besar pendatang untuk menyeberangi ke negara utara Eropah. - Press TV

Penentang terima bekalan senjata


Beirut: Kumpulan penentang yang berdepan dengan serangan tentera Syria dan sekutunya di selatan Aleppo berkata, mereka menerima bekalan baru peluru antikereta kebal buatan Amerika Syarikat daripada beberapa negara yang menentang Presiden Bashar al-Assad.

Ia kali pertama bekalan baru itu diterima sejak tentera Syria, dengan bantuan serangan udara Russia, memulakan serangan besar-besaran Jumaat lalu.


Penentang yang bernaung di bawah Tentera Pembebasan Syria itu berkata, bekalan baru itu tiba sejak serangan mula dilancarkan oleh tentera Syria dan sekutunya, militan dari Iran dan anggota Hizbullah dari Lubnan.

Bagaimanapun, seorang pegawai berkata, bekalan itu tidak mencukupi bagi menghadapi serangan besar-besaran itu.

“Kami memerlukan lebih banyak senjata. Yang kami terima setakat ini tidak banyak membantu,” kata pegawai yang enggan dikenali itu.

Beberapa kumpulan penentang sebelum ini menerima bekalan senjata mereka dari Turki sebagai sebahagian daripada program yang disokong oleh Amerika Syarikat.

Pengarah kumpulan pemerhati Syria bagi hak asasi yang mengawasi sengketa di Syria berkata, kumpulan penentang berkenaan berjaya memusnahkan 11 kenderaan tentera Syria dengan peluru berpandu antikereta kebal berhampiran Aleppo sejak Jumaat lalu. - Agensi

Artikel ini disiarkan pada : Selasa, 20 Oktober 2015 @ 6:53 AM

SEORANG wanita berjalan bersama anaknya di bandar lama Aleppo yang hampir musnah akibat perang saudara sejak beberapa tahun lalu.
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/86400#sthash.EeVlo6vL.dpuf

Lima Terbunuh Dalam Serangan Di Benghazi


Diterbitkan: Selasa, 20 Oktober 2015 8:49 AM

BENGHAZI: Lima orang awam dilaporkan terbunuh dalam serangan yang dilakukan di ibu negara Libya di sini pada Isnin.
Hospital Al-Jalaa di sini mengumumkan terdapat empat orang terbunuh di lokasi serangan manakala seorang lagi menghembuskan nafas terakhir di hospital berkenaan.
Pengumuman yang dibuat menerusi Facebook itu mendakwa, seramai tiga lagi mangsa mengalami kecederaan dan masih dirawat.
"Kebanyakan mangsa merupakan kanak-kanak di bawah umur 10 tahun," jelasnya.
Sumber tentera mengesahkan mengenai insiden di Laithi itu tetapi enggan mendedahkan dalang disebalik serangan berkenaan.
Dalam kejadian berasingan, kumpulan militan Negara Islam (IS) dilapor telah melaksanakan hukuman mati terhadap dua tahanan pada hari sama.
Salah seorang daripada mangsa merupakan warga Sudan beragama Kristian.

Sunday, 18 October 2015

Hungary tutup sempadan


Tiga kanak-kanak pelarian terbaharu maut bot karam di Laut Agean
18 Oktober 2015 12:05 AM




BUDAPEST 17 Okt. - Tiga kanak-kanak antara empat pelarian mati lemas dalam kejadian terbaharu membabitkan cubaan menyeberangi Laut Agean di Greece, awal hari ini.
Menurut laporan pengawal pantai Greece, kesemua mang­sa yang tidak dikenali kerakyatan mereka, terbunuh apabila bot yang dinaiki karam berdekatan Pulau Kalymnos dan 11 lagi mang­sa berjaya diselamatkan.
Bagaimanapun seorang lagi kanak-kanak dilaporkan masih hilang dan usaha mencari sedang giat dilaksanakan.
Kes terbaharu itu berlaku ketika beribu-ribu pelarian terkandas di Croatia apabila kerajaan Hungary menutup sempadannya dengan negara jirannya itu awal hari ini bagi mengekang kemasukan pelarian.
Menurut laporan AFP, askar dan polis Hungary memasang kawat berduri di laluan utama sempadan ke negara ini selepas menerima sekurang-kurangnya 1,500 pelarian yang tiba menaiki kereta api.
Tindakan Budapest itu memaksa Croatia mengambil keputusan untuk mengalihkan laluan pelarian ke Slovenia, langkah yang menyebabkan pelarian tidak mempunyai pilihan sama ada kekal di Croatia atau bergerak ke Slovenia.
Namun kerajaan Slovenia bertindak menggantung perkhidmatan kereta api dengan Croatia, sekali gus merumitkan lagi krisis tersebut.
Dalam perkembangan sama, usul pakej bantuan kewangan daripada EU kepada Turki untuk menangani krisis pelarian ditolak oleh Ankara kerana disifatkan sebagai tidak mencukupi dan tidak boleh diterima.
Menteri Luar Turki, Feridun Sinirlioglu berkata, pelan tindakan itu hanya merupakan draf yang dipersetujui di Brussels dan belum dimeterai sepenuhnya.
“Jika EU menawarkan bantuan tiga bilion euro (RM14.2 bilion) pada fasa awal, tindakan itu lebih bermakna dan diterima.
“Kerajaan Turki telah mem­belanjakan tujuh bilion euro (RM37 bilion) bagi membantu pelarian dan bantuan tersebut bukan untuk kami tetapi bagi membantu rakyat Syria yang memerlukan,” katanya seperti dilaporkan Al Jazeera.
Dalam perkembangan berasingan, sebanyak 12 orang pelarian lemas apabila bot yang mereka naiki untuk ke Greece karam semasa berada di perairan Turki.
Pasukan pengawal pantai Turki pada masa sama menyelamatkan 25 penumpang bot kayu itu selepas pelarian berkenaan sempat menghubungi pihak berkuasa dengan telefon bimbit mereka sebelum bot berkenaan karam. 
– AFP
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/hungary-tutup-sempadan-1.147632#sthash.2Emjb7FA.dpuf

Saturday, 17 October 2015

AS, UAE bincang situasi di Syria

SABTU, 17 OKTOBER 2015 @ 9:41 AM

 Barack Obama (kiri) dan Putera Mohammed Zayed Al Nahyan.

 WASHINGTON: Presiden Amerika Syarikat, Barack Obama, berbincang menerusi telefon dengan Putera Mahkota Abu Dhabi, Putera Mohammed Zayed Al Nahyan dan mereka bersetuju bahawa operasi ketenteraan Russia di Syria patut menumpukan kepada IS, bukannya kumpulan penentang sederhana Syria, menurut Rumah Putih. Obama dan Al Nahyan yang menduduki jawatan kanan dalam tentera Emiriah Arab Bersatu (UAE), turut memperakui kepentingan mewujudkan situasi perlu bagi peralihan kuasa di Syria. - Reuters

Selanjutnya di : http://www.bharian.com.my/node/89590

Tentera Bashar, Rusia serang pemberontak


AP - IMEJ yang diambil daripada laman web rasmi Kementerian Pertahanan Rusia menunjukkan satu sasaran dibedil ketika serangan udara di Syria.


BEIRUT – Tentera Syria dan jet-jet Rusia menyerang pemberontak di selatan bandar Aleppo semalam selepas Moscow memberi sokongan dengan kempen serangan udara yang berlangsung sejak dua minggu lalu, lapor sumber dari Syria dan sebuah kumpulan pemantau.
“Operasi ketenteraan bermula di pedalaman selatan Aleppo,” kata seorang sumber prokerajaan di Syria.
Pengarah Kumpulan Pemerhati Hak Asasi Manusia Syria, Rami Abdulrahman berkata, berlaku pertempuran hebat berhampiran kawasan Jebel Azzan, kira-kira 12 kilometer di selatan Aleppo, kawasan yang membahagi antara tentera kerajaan dan kumpulan pemberontak.
“Kawasan sasaran tentera dan jet Rusia adalah berhampiran jalan utama yang menu­ju ke selatan ibu kota Damsyik,” kata Rami.
Sejak Rusia melancarkan serangan udara pada 30 September lalu yang didakwa ditujukan kepada militan Islamic State (IS), pasukan tentera Presiden Bashar al-Assad pula meningkatkan serangan terhadap kawasan pemberontak di barat Syria.
Serangan itu termasuk kubu di utara Homs dan kawasan di wilayah Hama, Idlib dan Latakia yang diambil alih oleh pemberontak sejak musim panas.
Stesen televisyen al-Mayadeen yang beribu pejabat di Beirut melaporkan semalam bahawa tentera sedang berlawan dari tiga penjuru di selatan Aleppo.
Tambah Rami, tentera telah berjaya menawan semula kampung Abtin dari kumpulan pemberontak termasuk sebuah kubu kereta kebal dekat kampung Sabiqiya. Kedua-dua kampung itu terletak dekat dengan Jebel Azzan. – Reuters


Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2015&dt=1017&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_02.htm#ixzz3ovqd6fMT 
Hakcipta terpelihara 

Rejim Syria mula serang Aleppo

Agensi
Beirut: Tentera Syria yang disertai ratusan militan Hizbullah dari Lubnan dan Syiah dari Iran mula melancarkan serangan terhadap kumpulan penentang di selatan Aleppo, bandar kedua terbesar negara itu.

Ia serangan keempat yang dilancarkan rejim Presiden Bashar al-Assad sejak Moscow mula melancarkan kempen serangan udara untuk mengukuhkan kedudukan pemimpin Syria itu pada 30 September lalu.


Sejak pertengahan 2012, penguasaan bandar raya Aleppo terbahagi kepada dua, antara rejim Bashar yang menguasai bahagian barat dan penentang di timur.

“Operasi ketenteraan besar-besaran bermula hari ini (semalam) di selatan wilayah Aleppo dengan penyertaan sekutu dan sahabat kami,” kata satu sumber tentera Syria.

Dia kemudian menjelaskan, sekutu merujuk kepada sokongan Russia, sementara rakan kepada militan Iran dan Hizubullah.

Pada masa sama, tentera Syria mengeluarkan kenyataan yang ditujukan kepada penduduk Aleppo dengan berkata, operasi untuk membebaskan mereka daripada kumpulan ‘pengganas’ sudah bermula.

Ia memberi amaran, penduduk yang bekerjasama dengan penentang akan menjadi sasaran tentera.

“Mereka yang mengibarkan bendera putih tidak akan ditembak. Mereka yang bekerjasama dengan askar kami sepanjang operasi ini akan selamat,” menurut kenyataan itu.

Kumpulan pemerhati hak asasi Syria berkata, setakat ini tentera yang setia kepada Bashar itu menguasai dua kampung dalam kemaraan mereka dan pesawat Russia masih mengebom dua lagi.

Serangan terhadap Aleppo dilancarkan sehari selepas tentera rejim memulakan operasi di utara Homs.

Artikel ini disiarkan pada : Sabtu, 17 Oktober 2015 @ 6:54 AM

ANGSA melintas di depan bangunan yang musnah akibat serangan pesawat pengebom Russia di Aleppo, Syria.
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/85803#sthash.pKR6qpUH.dpuf

Turki tembak jatuh dron di sempadan


Ankara: Jet pejuang Turki semalam menembak jatuh sebuah dron yang tidak dikenali selepas ia mencerobohi ruang udara negara itu di sempadan dengan Syria.

Tentera Turki berkata, pesawat tanpa juruterbang itu ditembak jatuh selepas ia tidak mengendahkan tiga amaran supaya meninggalkan kawasan berkenaan.


Bagaimanapun, sehingga ini tiada laporan mengenai negara asal dron itu.

Ia terhempas di wilayah Turki.



Amerika Syarikat, Russia dan kerajaan Syria mengendalikan dron di wilayah itu.

Turki awal bulan ini membantah tindakan pesawat pengebom Russia mencabuli ruang udaranya, pencerobohan yang turut mengundang kecaman daripada sekutu Turki dalam NATO.

Di Moscow, Kementerian Pertahanan Russia memberitahu agensi berita negara itu, semua jet negara itu pulang dengan selamat selepas melakukan pengeboman terhadap kedudukan penentang Presiden Syria Bashar al-Assad. Begitu dengan dronnya, tidak ada yang ditembak jatuh.

Turki sebelum ini pernah menembak jatuh sebuah pesawat tentera, helikopter dan dron milik Syria yang menceroboh ruang angkasanya. - Agensi

Artikel ini disiarkan pada : Sabtu, 17 Oktober 2015 @ 6:53 AM

- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/85801#sthash.pMWymHlK.dpuf

Ratusan militan terbunuh: Putin


Astana: Presiden Vladimir Putin berkata semalam, serangan udara yang dilakukan tentera negaranya di Syria menyebabkan ratusan militan terbunuh,

“Depoh senjata dan puluhan kemudahan ketenteraan, ratusan militan dan sejumlah besar senjata mereka musnah,” kata pemimpin Russia itu ketika mesyuarat pemimpin negara bekas Soviet di Astana, Kazakhstan.

Dia menegaskan serangan udara Russia itu terhadap kumpulan Negara Islam (IS) dan militan lain di Syria akan diteruskan selagi operasi ketenteraan Syria terhadap penentang Presiden Bashar Al-Assad tidak berakhir.

“Hasil serangan udara yang dilakukan di Syria amat membanggakan sejak ia bermula 30 September lalu,” katanya.



Pesawat Russia setakat ini sudah melakukan lebih 600 serangan, menyasarkan kedudukan penentang Bashar.

Putin juga memberitahu, antara 5,000 dan 7,000 rakyat Russia serta beberapa negara bekas Soviet lain menyertai IS di Syria.

“Kami tidak akan membenarkan mereka menggunakan pengalaman yang diperoleh di Syria untuk melakukan keganasan di Russia,” katanya.

Dalam pada itu, Putin juga menggesa diwujudkan kerjasama antara negara bekas Soviet bagi menghalang kemungkinan militan dari Afghanistan menyusup masuk ke negara bekas Soviet. - Agensi

Artikel ini disiarkan pada : Sabtu, 17 Oktober 2015 @ 6:53 AM

- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/85800#sthash.TNJoMpKM.dpuf

Nasib tragis pelarian


Lagi kanak-kanak maut bot dinaiki berlanggar di perairan Greece
17 Oktober 2015 12:39 AM



ATHENS 16 Okt. - Tragedi demi tragedi melibatkan pelarian terus menghantui benua Eropah apabila sekurang-kurangnya lapan pela­rian termasuk empat kanak-kanak mati lemas selepas bot yang dinaiki berlanggar dengan sebuah bot pengawal pantai di kawasan perairan Greece, semalam.
Insiden terbaharu itu turut menyaksikan babak tragis apabila anggota pasukan Pengawal Pantai Greece mengeluarkan mayat seorang pelarian kanak-kanak lelaki yang terapung di perairan pantai Lesbos.
Menurut kenyataan pihak ber­kuasa seperti dilaporkan Mail Online, mereka turut menemukan mayat seorang perempuan, dua kanak-kanak dan seorang bayi selepas kejadian pelanggaran terbabit.
Jelas laporan itu, seorang lagi mangsa dilaporkan masih hilang dan pasukan penyelamat Greece yang dibantu sebuah kapal Portugal dan helikopter milik agensi sempadan Kesatuan Eropah (EU) masih meneruskan usaha pencarian.
“Seramai 31 pelarian yang masih belum disahkan kerakyatan di­selamatkan dalam kejadian itu.
“Siasatan telah dijalankan untuk mengenalpasti punca kapal pengawal pantai berlanggar dengan bot pelarian terbabit,” tambah laporan berkenaan.
Dalam perkembangan berasingan, seorang pelarian Afghanistan ditembak mati ketika cuba mema­suki Bulgaria lewat malam semalam.
Kementerian Dalam Negeri Bulgaria berkata, kejadian tersebut berlaku di pekan Sredets, tenggara negara itu apabila kira-kira 50 pelarian cuba melintasi sempadan dari Turki, menyebabkan pasukan pengawal sempadan dikerah untuk menahan mereka.
Namun jelas kenyataan itu, kumpulan terbabit enggan memberi ker­jasama menyebabkan seorang anggota keselamatan melepaskan tembakan yang secara tidak sengaja terkena seorang pelarian.
“Mangsa yang mengalami kecederaan akibat terkena tembakan, meninggal dunia ketika dalam perjalanan ke hospital,” tambah ke­nyataan tersebut. – AFP
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/nasib-tragis-pelarian-1.147367#sthash.PA1E2d81.dpuf

Friday, 16 October 2015

Campur tangan Russia tidak akan selamatkan Assad: Hollande



Presiden Syria, Bashar al-Assad (kiri) dan Presiden Perancis, Francois Hollande
BRUSSELS: Campur tangan ketenteraan Russia di Syria tidak akan menyelamatkan Presiden Bashar al-Assad, kata Presiden Perancis, Francois Hollande, selepas sidang kemuncak Kesatuan Eropah (EU) menggesa peralihan kuasa kepada pemimpin baharu.
"Campur tangan Russia daripada satu sudut boleh memperkukuhkan pihak rejim tetapi ia tidak akan menyelamatkan Bashar," kata Hollande pada sidang media selepas sidang kemuncak itu di Brussels.

Thursday, 15 October 2015

AS, Rusia jadikan Syria medan Perang Dingin



AP - PENYOKONG kerajaan Syria dilihat memegang sepanduk pro-Rusia sebagai tanda terima kasih atas campur tangan Moscow dalam satu perarakan di Damsyik kelmarin.


BEIJING – Akhbar utama China semalam menuduh Amerika Syarikat (AS) dan Rusia mengulangi sejarah konfrontasi Perang Dingin dengan melancarkan operasi ketenteraan di Syria.
Beijing mengingatkan kedua-dua seteru itu bahawa era tersebut sudah berakhir dan mereka wajar ke meja rundingan.
Akhbar The People’s Daily milik Parti Komunis China menyatakan bahawa AS dan Rusia menggunakan Syria sebagai proksi untuk konfrontasi diplomatik dan ketenteraan, seperti ketika Perang Dingin beberapa dekad lalu.
“Ketika itu, AS dan negara bekas Kesatuan Soviet menggunakan konfrontasi diplomatik, ekonomi dan ketenteraan di bumi negara lain bagi meningkatkan pengaruh masing-masing. Ini gambaran lama era Perang Dingin.
Walaupun China secara umumnya memihak kepada Rusia mengenai isu Syria di Majlis Keselamatan, Beijing turut menyuarakan kebimbangannya berhubung campur tangan asing di bumi Syria.
Pada bulan lalu, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran di Syria sekali gus meningkatkan campur tangan asing dalam perang saudara di negara itu. Tindakan itu dikritik Barat sebagai percubaan untuk membantu Presiden Bashar Al-Assad dan bukannya mahu menghapuskan kumpulan militan Islamic State (IS) seperti yang didakwa Moscow.
AS dan sekutunya turut melancarkan serangan udara di Syria terhadap IS di samping menyokong kumpulan pembangkang yang menentang Bashar.
The People’s Daily menegaskan bahawa Syria tidak boleh dibiarkan menjadi perang medan perang proksi antara Rusia dan AS. – Reuters


Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2015&dt=1014&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_02.htm#ixzz3oe5kaops 
Hakcipta terpelihara 

Kurdis Syria: Turki beri amaran kepada AS, Russia

RABU, 14 OKTOBER 2015 @ 7:06 PM

ANKARA: Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu, hari ini memberi amaran kepada Amerika Syarikat (AS) dan Russia mengenai bantuan ketenteraan dan sokongan politik yang "tidak boleh diterima" kepada puak Kurdis Syria untuk memerangi kumpulan militan IS di Syria. Terdahulu, Turki memanggil Duta AS dan Russia bagi memberi amaran berhubung pembekalan senjata dan sokongan kepada pasukan Kurdis Syria yang memerangi IS. "Kami mempunyai pendirian yang jelas. Pendirian itu sudah disampaikan kepada Amerika Syarikat dan Russia. "Turki tidak boleh menerima sebarang kerjasama dengan pertubuhan pengganas yang melancarkan perang terhadap kami," kata Davutoglu. Sementara itu, pegawai Kementerian Luar Turki memaklumkan bahawa Duta AS dan Russia dipanggil ke kementerian semalam "bagi menyampaikan pandangan Turki" mengenai Parti Perpaduan Demokratik (PYD) iaitu kumpulan utama Kurdis di Syria. "Amaran perlu sudah dikeluarkan," kata pegawai itu. Turki menganggap PYD sebagai kumpulan sampingan Parti Pekerja Kurdistan (PKK) yang melancarkan pemberontakan berdarah sejak 1984. - AFP

 PERDANA Menteri Turki, Ahmet Davutoglu. - Foto Reuters

Selanjutnya di : http://www.bharian.com.my/node/89018

Russia bedil 40 sasaran IS di Syria

PESAWAT Russia membedil sasaran IS di Syria dalam tempoh 24 jam lalu, memusnahkan beberapa depoh senjata dan kem latihan. - Foto AFP

MOSCOW: Pesawat Russia membedil 40 sasaran IS di Syria dalam tempoh 24 jam lalu, memusnahkan beberapa depoh senjata dan kem latihan, menurut Kementerian Pertahanan.
"Dari Pangkalan Udara Hmeimim, kru pesawat perang Su-34, Su-24M dan Su-25SM melakukan 41 serangan terhadap 40 sasaran pengganas IS di Aleppo, Idlib, Latakia, Hama dan Deir Ezzor," kata jurucakap kementerian itu, Igor Konashenkov, dalam satu kenyataan.
Beliau berkata, pesawat pengebom Russia juga memusnahkan kemudahan yang digunakan pejuang bagi membuat alat letupan dan bom kereta berhampiran bandaraya Aleppo.
"Semua bom itu untuk digunakan dalam serangan keganasan di bandaraya-bandaraya Syria dan penempatan serta kedudukan tentera kerajaan," katanya. - AF

Moscow dakwa IS hampir kalah


Moscow: Negara Islam (IS) dilapor berada di ambang kekalahan selepas sejumlah besar senjata, kenderaan berat dan kelengkapan perang musnah akibat serangan udara Russia.

Kumpulan militan itu yang menguasai sejumlah besar wilayah di Iraq dan Syria dikatakan menjadi sasaran serangan berterusan Russia sejak hampir tiga minggu lalu.

“Serangan udara di Syria menyebabkan kemusnahan besar senjata, kenderaan besar dan kelengkapan perang IS. Kumpulan itu mengaktifkan semua logistik mereka untuk mengangkut senjata dan minyak dari wilayah Raqqa,” dakwa Kementerian Pertahanan Russia di Moscow.

Stesen televisyen RT yang dibiayai kerajaan Russia mendakwa, komunikasi yang dipintas menunjukkan panglima IS mengancam berundur kecuali bekalan senjata tiba.

Minggu lalu, pegawai perisikan melaporkan anggota IS panik dan melarikan diri dari medan tempur ekoran pengeboman pesawat Russia.

“Mereka tidaklah seberani yang disangka. Mereka kini mahu menyelamatkan diri,” kata sumber tentera Russia.

Pemimpin Barat, termasuk Presiden Amerika Syarikat dan Perdana Menteri Britain David Cameron mendakwa serangan Russia di Syria memburukkan keadaan dan hanya untuk membantu menyelamatkan Presiden Bashar al-Assad.

Bagaimanapun Presiden Russia Vladimir Putin mendakwa Barat cemburu dengan kejayaan negaranya.

“Mereka memerangi keganasan, tetapi hasilnya tidak ada,” kata Putin mengenai kritikan pemimpin Barat terhadap pembabitan negaranya di Syria.

Putin dilapor baru-baru ini bersiap untuk menghantar 150,000 tentera darat bagi menawan Raqqa, yang diisytihar IS sebagai ibu negaranya. - Agensi

Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 15 Oktober 2015 @ 8:24 AM

KARIKATUR dari sebuah akhbar Saudi menyindir Presiden Syria, Bashar al-Assad.
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/85290#sthash.uBRfzUWq.dpuf

Turki beri AS, Russia amaran

AFP
Ankara: Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu semalam memberi amaran kepada Amerika Syarikat dan Russia berhubung sokongan tentera dan politik untuk pasukan militan Kurdis yang memerangi Negara Islam (IS) di Syria.

Turki sebelum ini memanggil duta kedua-dua negara kuasa besar itu untuk memberi amaran mengenai tindakan membekalkan senjata dan sokongan kepada pasukan Kurdis berkenaan.

“Pendirian kami cukup jelas. Kami sudah menyampaikannya kepada Amerika Syarikat dan Russia.

“Turki tidak boleh menerima sebarang kerjasama dengan pertubuhan pengganas yang memerangi kami,” kata Ahmet dalam kenyataan menerusi televisyen

“Seorang pegawai kementerian luar memberitahu wartawan, duta Amerika Syarikat dan Russia dipanggil ke kementerian itu untuk dimaklumkan mengenai pandangan Turki berhubung Parti Perpaduan Demokratik (PYD), parti utama Kurdis di Syria.

“Amaran disampaikan menerusi duta kedua-dua negara itu,” kata pegawai berkenaan.

Turki menganggap PYD cabang Parti Pekerja Kurdistan (PKK) yang melancarkan kempen berdarah di Turki sejak 1984.

Tentera bersekutu yang diketuai Amerika Syarikat membekalkan senjata kepada PYD di utara Syria sebagai cara menyokong kumpulan yang menentang IS.

Russia pula campur tangan di Syria dengan melancarkan serangan udara bagi menyokong rejim Presiden Bashar al-Assad.

Seorang pegawai kanan negara itu mengadakan rundingan dengan pemimpin kanan PYD Salih Muslim mengenai peperangan terhadap IS.

PYD menguasai sebahagian besar kawasan di utara Syria yang bersempadan dengan Turki.

Turki kini terbabit dalam dua peperangan menentang keganasan, dengan IS dan juga PKK, walaupun serangan udara kini banyak tertumpu di pangkalan militan Kurdis di utara Iraq.

Ahmet berkata, ada kerjasama antara PKK dan PYD.

“Ada anggota PKK yang pergi ke Syria untuk membantu PYD di sana.

“Sama seperti Amerika Syarikat dan negara lain memerangi kumpulan yang ada hubungan dengan al-Qaeda, kami juga memerangi PKK dan sekutunya.”

Menurutnya, Turki tidak boleh bertolak ansur dengan sokongan senjata yang diberikan kepada PKK dan sekutunya.

“Tidak siapa boleh memberi jaminan senjata yang dibekalkan kepada kumpulan Kurdis Syria tidak akan berakhir di Turki,” katanya.

Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 15 Oktober 2015 @ 8:25 AM

ULAMA Sunni Lubnan mengadakan tunjuk perasaan di depan kedutaan Russia di Beirut semalam kerana membantah campur tangan negara itu di Syria, semalam.
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/85294#sthash.spa1Gt9X.dpuf

Wednesday, 14 October 2015

AS, Rusia jadikan Syria medan Perang Dingin



AP - PENYOKONG kerajaan Syria dilihat memegang sepanduk pro-Rusia sebagai tanda terima kasih atas campur tangan Moscow dalam satu perarakan di Damsyik kelmarin.


BEIJING – Akhbar utama China semalam menuduh Amerika Syarikat (AS) dan Rusia mengulangi sejarah konfrontasi Perang Dingin dengan melancarkan operasi ketenteraan di Syria.
Beijing mengingatkan kedua-dua seteru itu bahawa era tersebut sudah berakhir dan mereka wajar ke meja rundingan.
Akhbar The People’s Daily milik Parti Komunis China menyatakan bahawa AS dan Rusia menggunakan Syria sebagai proksi untuk konfrontasi diplomatik dan ketenteraan, seperti ketika Perang Dingin beberapa dekad lalu.
“Ketika itu, AS dan negara bekas Kesatuan Soviet menggunakan konfrontasi diplomatik, ekonomi dan ketenteraan di bumi negara lain bagi meningkatkan pengaruh masing-masing. Ini gambaran lama era Perang Dingin.
Walaupun China secara umumnya memihak kepada Rusia mengenai isu Syria di Majlis Keselamatan, Beijing turut menyuarakan kebimbangannya berhubung campur tangan asing di bumi Syria.
Pada bulan lalu, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran di Syria sekali gus meningkatkan campur tangan asing dalam perang saudara di negara itu. Tindakan itu dikritik Barat sebagai percubaan untuk membantu Presiden Bashar Al-Assad dan bukannya mahu menghapuskan kumpulan militan Islamic State (IS) seperti yang didakwa Moscow.
AS dan sekutunya turut melancarkan serangan udara di Syria terhadap IS di samping menyokong kumpulan pembangkang yang menentang Bashar.
The People’s Daily menegaskan bahawa Syria tidak boleh dibiarkan menjadi perang medan perang proksi antara Rusia dan AS. – Reuters


Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2015&dt=1014&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_02.htm#ixzz3oVKXmJDI 
Hakcipta terpelihara 

Tuesday, 13 October 2015

AS hantar senjata kepada pejuang anti-IS di Syria

SELASA, 13 OKTOBER 2015 @ 9:12 AM

BEIRUT: Tentera regim Syria dibantu serangan udara Russia terbabit dalam pertempuran hebat dengan kumpulan penentang pada Isnin. Pada masa sama, tentera pakatan diterajui Amerika Syarikat (AS) menggugurkan peluru dan persenjataan kepada kumpulan pejuang di utara negara itu yang dikatakan berjuang menentang militan Negara Islam (IS). Seorang pegawai berkata, bantuan yang disalurkan tentera AS semalam termasuk 50 tan peluru. Dalam konflik yang kompleks membabitkan beberapa negara asing, Moscow pada hujung bulan lalu memulakan serangan udara bagi menyokong regim Presiden Bashar al-Assad menentang musuhnya yang digelar Moscow sebagai 'pengganas'. Washington dan Eropah menuduh Moscow menyasarkan kumpulan 'sederhana' yang menentang regim Bashar, bukannya IS. Bagi AS, menamatkan regim pimpinan Bashar adalah kunci ke arah menamatkan perang saudara yang sudah berlarutan selama empat tahun di Syria. Pada Isnin, para menteri luar Kesatuan Eropah (EU) mendesak Russia menamatkan serangan terhadap pejuang bukan IS manakala wakil keamanan PBB ke Syria akan ke Moscow untuk merumus mandat politik bagi menamatkan konflik di negara itu. Moscow berkata, tentera udaranya menyerang 53 sasaran di Syria dalam tempoh 24 jam lalu di empat wilayah - Hama, Homs, Lakatia dan Idlin yang didakwanya berjaya memutuskan rantaian bekalan IS. Dalam pada itu, AS berkata tentera bersekutu menggugurkan senjata kepada Kesatuan Arab Syria (SAC) yang berjuang menentang militan IS di kubu kuat mereka di Raqqa sejak beberapa bulan lalu. - AFP

Selanjutnya di : http://www.bharian.com.my/node/88592