Tuesday, 1 November 2016

JAYSH AL ISLAM HADANG PASUKAN ASSAD DI PINGGIR DAMASKUS, TEWASKAN PULUHAN SERDADU


1 November 2016
Jaysh al Islam Hadang Pasukan Assad di Pinggir Damaskus, Tewaskan Puluhan Serdadu

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Jaysh al Islam pada Senin pagi menggagalkan upaya pasukan al-Assad yang mencoba maju ke posisi oposisi yang terletak di speedway internasional Damaskus-Homs, menewaskan dan melukai barisan Assad, ElDorar AlShamia melaporkan, Senin (31/10/2016).
Kantor Media Jaysh al Islam melaporkan bahwa pejuangnya membunuh sedikitnya sepuluh pasukan rezim Assad, dan melukai beberapa orang lainnya.
Pertempuran sengit masih berlangsung di pinggiran daerah “Tal Kerdi” di Timur Ghouta saat faksi mujahidin berusaha untuk mendapatkan kembali kontrol wilayah itu setelah pasukan Nushairiyah Assad sempat merampasnya pada hari Ahad.
Serangan militer yang dilakukan oleh pasukan Assad dan milisi Syiah pendukungnya terjadi selama beberapa bulan terakhir di Timur Ghouta, yang menyebabkan hilangnya beberapa daerah.

MUJAHIDIN SURIAH KUASAI PINTU MASUK BARAT ALEPPO DAN REBUT MARKAS ASSAD DI HAMDANIYA


1 November 2016
Mujahidin Suriah Kuasai Pintu Masuk Barat Aleppo dan Rebut Markas Assad di Hamdaniya

 Mujahidin Suriah Kuasai Pintu Masuk Barat Aleppo dan Rebut Markas Assad di Hamdaniya
ALEPPO (Jurnalislam.com) – Faksi Jihad dan pejuang oposisi Suriah telah membuat kemajuan dalam operasi yang sedang berlangsung untuk mematahkan pengepungan rezim Nushairiyah Assad yang diberlakukan pada kota utara Aleppo, Anadolu Agency melaporkan Senin (31/10/2016).

Para mujahidin dan pejuang oposisi telah menguasai pinggiran wilayah Assad di pintu masuk barat Aleppo dan menduduki bangunan di distrik al-Hamdaniya, menjadi berada dalam 3 kilometer dari pusat kota Aleppo, menurut sumber-sumber lokal.

Koalisi mujahidin Suriah kini berada beberapa ratus meter dari akademi militer, kubu pasukan Assad  dan milisi Syiah sekutu rezim di Aleppo Barat.

“Operasi kami bertujuan untuk memecahkan pengepungan pada Aleppo dan pasukan kita berusaha masuk lingkungan yang diperintah rezim di kota,” kata komandan oposisi Ammar Saqar kepada Anadolu Agency.

Dia mengatakan pasukan oposisi telah menduduki benteng pasukan rezim di Aleppo Barat pada hari pertama operasi, yang dimulai pada hari Jumat.

“Cuaca buruk menghambat pemboman udara pasukan kita oleh rezim Suriah,” katanya.

Saqar mengatakan pasukan oposisi telah mengambil “tindakan pencegahan” untuk mengurangi dampak dari serangan udara rezim.

Dia mengatakan bahwa mujahidin Suriah telah “berjuang melawan kekuatan super seperti Rusia dan Iran serta milisi sektarian yang datang dari seluruh dunia”.

Baraa al-Shami, juru bicara Front al-Sham, mengatakan bahwa tahap pertama operasi militer telah mencapai tujuannya.

“Kami telah memecah garis pertahanan pertama rezim Suriah dan sekutu milisi,” katanya.

“Tahap kedua operasi akan segera dimulai,” katanya, menolak memberikan rincian.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Bashar Assad menumpas protes unjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari “Gerakan Arab Spring” – dengan keganasan militer tak terduga.

Sejak itu, lebih dari 450.000 orang telah tewas dan lebih dari 10 juta lainnya menjadi pengungsi di seluruh negara yang dilanda perang, menurut PBB

Turki-Rusia menandatangani perjanjian penting tentang Suriah


 
Rusia dan Turki meraih kesepakatan penting pada peta baru di Suriah tentang koridor teror PYD yang didukung AS di perbatasan utara Suriah yang dilanda perang.
Sumber tingkat tinggi pemerintah mengatakan kepada harian Yeni Şafak bahwa peta baru akan disepakati termasuk mengenai propinsi Aleppo, Idlib, Latakia, Raqqa, Al-Hasakah dan Deyr ez-Zor.
Inti dari kesepakatan kabarnya akan memungkinkan pasukan oposisi yang didukung Turki untuk masuk Aleppo dan pasukan Assad akan menarik diri dari wilayah tersebut. Struktur demografi sebelum perang akan diambil sebagai dasar proyek ini.
Turki dan Rusia sepakat tidak akan menerima koridor teror PYD / PKK di Suriah utara yang bertujuan untuk memasukkan al-Hasakah, Tal Abyad, Ayn al Arab, Jarabulus, Al Rai, Azez, Marea dan Afrin dalam wilayah mereka dengan nama ‘federasi’, ‘canton ‘atau ‘daerah otonom ‘.
Rusia sepakat mendukung Turki melawan kelompok teroris PYD / PKK di bawah operasi militer Euphrates Shield, menurut kesepakatan baru. Daerah ini akan diserahkan kepada unsur-unsur lokal dan majelis lokal setelah dibebaskan dari kelompok teror.
Operation Euphrates Shield (OES), kampanye militer FSA yang didukung militer Angkatan Darat Turki sebagai kontra terorisme di Suriah utara, diluncurkan pada 24 Agustus untuk membersihkan kota perbatasan dari kelompok teror Daesh dan PYD.
Sekitar 1.300 kilometer daerah persegi telah dibersihkan dan keamanan telah dibentuk di wilayah tersebut. Ribuan warga Suriah kembali ke rumah mereka dari Turki.
Pasukan FSA telah mencapai pinggiran Aleppo yang terkepung dan maju ke arah kota al-Bab, kubu Daesh di timur laut Aleppo.
resized_e0280-18181a67manbijj

resized_e0280-18181a67manbijj
Presiden Erdogan mengatakan pekan lalu bahwa OES akan maju ke selatan dan akan membersihkan daerah tersebut dari teroris dengan total wilayah seluas 5.000 km persegi.
Serangan besar-besaran baru-baru ini dari kelompok oposisi di Aleppo Barat berusaha mematahkan pengepungan rezim selama sebulan juga dianggap sebagai bagian dari perjanjian ini.
Rusia menghentikan serangan udara di Aleppo
Meskipun mengalami kerugian berat pasukan rezim di Aleppo Barat, Rusia mengesampingkan melakukan dukungan udara untuk pasukan Assad di kota tersebut.
Juru Bicara Departemen Pertahanan Rusia, Igor Konshenkov mengatakan akhir pekan ini bahwa pesawat Rusia tidak meluncurkan operasi tunggal di kota Aleppo dalam 13 hari terakhir.
Selain itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menolak permintaan Kementerian Pertahanan untuk melanjutkan serangan udara di Aleppo.
Sumber tersebut mengatakan bahwa rezim Assad akan mengkonsolidasikan kekuatannya di Latakia dan Tartous.
Sampai saat ini Rusia masih bersikeras bahwa wilayah Aleppo harus dibersihkan dari unsur Al-Nursa, yang mereka klaim sebagai kelompok teroris.
Sementara itu, Turki terus memperkuat posisinya di daerah dibebaskan di antara Azaz-Jarabulus. Banyak tank dan kendaraan lapis baja bersama dengan personil militer telah dikerahkan di garis perbatasan İslahiye di Gaziantep, pada hari Minggu.
Yeni Safak

Oposisi Suriah selangkah lagi membebaskan pengepungan di Aleppo


By Administrator -  November 1, 2016 1564
Share on Facebook Tweet on Twitter



Pejuang oposisi, di bawah kepemimpinan Jaish al-Fatah, mengatakan mereka sudah sangat dekat untuk benar-benar mematahkan blokade rezim di Aleppo

Oposisi moderat Suriah telah mengatakan bahwa mereka hanya satu langkah lagi untuk mematahkan blokade rezim atas daerah yang dikuasai oposisi di provinsi Aleppo Suriah. Pihak oposisi mengatakan bahwa pasukan rezim Bashar al-Assad akan menghadapi serangan tak terduga.

Para pejuang oposisi juga menyatakan tekad mereka untuk tidak mengakhiri operasi sebelum pasukan mencapai pusat Aleppo.
Dalam pertempuran, rezim Assad memaksa Jaysh al Fatah untuk menarik diri dari lingkungan apartemen 3000, sedangkan oposisi berhasil merebut desa minyan.
Sementara itu, bagian timur Aleppo dilaporkan telah jatuh ke dalam kehancuran setelah serangan udara rezim.

Operasi itu dimulai pada 28 Oktober di bawah kepemimpinan Jaysh al-Fatah dimana pejuang oposisi terus melanjutkan serangan ke pusat kota dari barat.
Aleppo adalah salah satu daerah penting yang telah menjadi ajang pertempuran sengit antara oposisi dan rezim Assad yang didukung Iran dan Rusia.
Daerah ini sangat signifikan karena lokasinya berada hanya 50 kilometer dari wilayah Turki. Lebih dari 250.000 warga sipil masih tinggal di Aleppo.

Yeni Safak

Serangan gas beracun


1 NOVEMBER 2016
Serangan gas beracun

Serangan gas beracun Gambar menunjukkan pakar senjata kimia PBB melawat mangsa serangan gas beracun yang sedang dirawat di Mouadamiya berhampiran Damsyik.
DAMSYIK - SYRIA. Sekurang-kurangnya 36 dilaporkan terjejas selepas kumpulan militan Daesh didakwa melancarkan serangan gas beracun di dua kawasan kejiranan di bandar barat laut Aleppo di Syria.

Kelmarin, agensi berita Sana melaporkan, kira-kira 35 mengalami sesak nafas selepas hujan peluru melanda kawasan kejiranan Dahiyet al-Assad dan Hamdaniyeh terletak 355 kilometer di utara Damsyik.

"Kesemua mangsa dihantar ke Hospital Universiti Aleppo dan Hospital al-Razi selepas menunjukkan simptom sukar bernafas, midriasis, kejang otot dan kebas tubuh badan," jelas laporan itu lagi.

Sementara itu, ketua Hospital Universiti Aleppo, Ibrahim Hadid memaklumkan mangsa terdiri daripada orang awam termasuk pejuang yang cedera selepas terhidu gas klorin yang dilancarkan Daesh.

Pada 16 September lalu, sekurang-kurangnya lapan termasuk lima orang awam mengalami kesukaran bernafas selepas Daesh melancarkan peluru mortar mengandungi gas beracun di Harbal dan Um Hosh di utara bandar bergolak itu.

Kira-kira sebulan sebelum itu, sekurang-kurangnya lima terkorban, manakala beberapa lagi terjejas selepas peluru berpandu diisi gas beracun dibedil ke kota lama Aleppo. - Press TV

Monday, 31 October 2016

Oposisi Suriah meraih kemajuan besar dalam operasi ofensif Aleppo




Aleppo, Suriah
Pasukan oposisi Suriah telah meraih kemajuan dalam operasi yang sedang berlangsung untuk memecahkan pengepungan rezim pada kota di Aleppo timur.
Pejuang oposisi telah merebut pinggiran wilayah Dhiyat al-Assad di pintu masuk barat Aleppo dan merebut bangunan di distrik al-Hamdaniya, sejauh 3 kilometer dari pusat kota Aleppo, menurut sumber-sumber lokal.
Pasukan oposisi kini ditempatkan beberapa ratus meter dari akademi militer, kubu pasukan rezim dan milisi sekutunya di Aleppo Barat.
“Operasi militer kami bertujuan untuk memecahkan pengepungan pada Aleppo dan pasukan kami berusaha untuk masuk ke wilayah yang dikuasai rezim di kota Aleppo,” kata komandan oposisi Ammar Saqar kepada Anadolu Agency.
Dia mengatakan pasukan oposisi telah merebuit benteng pasukan rezim di Aleppo Barat pada hari pertama operasi, yang dimulai pada hari Jumat.
“Cuaca buruk telah menghambat pemboman udara oleh rezim Suriah,” katanya.
Tanpa menjelaskan, Saqar mengatakan pasukan oposisi telah mengambil “tindakan pencegahan” untuk mengurangi dampak dari serangan udara rezim.
Dia mengatakan bahwa oposisi Suriah telah “berjuang melawan kekuatan besar seperti Rusia dan Iran serta milisi sektarian yang datang dari seluruh dunia”.
Baraa al-Shami, juru bicara al-Sham Front, mengatakan tahap pertama dari operasi militer telah mencapai tujuannya.
“Kami telah menghancurkan garis pertahanan pertama dari rezim Suriah dan milisi sekutunya,” katanya.
“Tahap kedua operasi akan segera dimulai,” katanya, menolak memberikan rincian.
Anadolu Agency

Rusia mengirim tiga kapal selam menuju Suriah dalam persiapan untuk serangan besar di Aleppo


 

Tiga kapal selam Rusia dipersenjatai dengan rudal jelajah telah dilaporkan bergabung dengan battleforce angkatan laut Rusia menuju Suriah.
Royal Navy dan NATO telah melacak dua kapal selam kelas Akula dan sub kelas Kilo bertenaga diesel saat mereka melakukan perjalanan untuk bergabung dengan armada kapal Rusia yang dipimpin oleh kapal induk era- Soviet, Admiral Kuznetsov.
“Rusia sekarang memiliki kapal selam di Med,” kata sumber senior angkatan laut kepada The Sunday Times.
Dikhawatirkan kapal selam dipersenjatai dengan rudal jelajah Kalibr dan dapat digunakan untuk mendukung serangan terakhir di kota yang terkepung di Aleppo.
Battlegroup termasuk Admiral Kuznetsov, Pyotr Veliky (Peter the Great) battlecruiser, kapal perusak Vice-Admiral Kulakov, kapal perusak Severomorsk dan beberapa kapal pasokan. Pada hari Selasa, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memperingatkan armada tersebut dapat digunakan untuk menargetkan warga sipil di Aleppo dan meluncurkan lebih banyak serangan udara.
Namun, pejabat Kementerian Luar Negeri senior Rusia Andrei Kelin membantah hal tersebut dan mengklaim sebagai hal yang “tidak masuk akal”.
“Kekhawatiran tidak didasarkan pada apa pun dimana pesawat kami tidak terbang di dekat Aleppo selama sembilan hari,” katanya kepada kantor berita RIA. “Battle group kami ada di Mediterania. Kapal kami selalu memiliki kehadiran di sana.”
“Mengapa membuat beberapa saran palsu dan kemudian membuat beberapa rekomendasi politik berdasarkan pada mereka? Hal ini tentu saja tidak masuk akal.”
Qasioun News

Sunday, 30 October 2016

Putin tolak cadangan serangan udara terbaru


30 OKTOBER 2016
Vladimir Putin

Vladimir Putin
MOSCOW - RUSIA. Presiden Rusia, Vladimir Putin menolak cadangan memulakan serangan udara terbaru di bandar Aleppo, dengan alasan memberi ruang kepada misi bantuan kemanusiaan.

"Presiden Rusia beranggapan adalah tidak wajar untuk memulakan serangan udara  di Aleppo buat masa ini. Beliau percaya rakyat yang cedera dan militan yang menyerah diri perlu diberi masa untuk keluar dari Aleppo," kata jurucakap Kremlin, Dmitry Peskov dalam sidang media di Moscow, kelmarin.

Aleppo, bandar kedua terbesar di Syria dikuasai tentera kerajaan barat dan  militan  timur.

Tentera kerajaan disokong Rusia memulakan serangan besar-besaran ke atas bandar itu sejak 22 September lalu. - Press TV

Putin tolak cadangan serangan udara terbaru


30 OKTOBER 2016
Vladimir Putin

Vladimir Putin
MOSCOW - RUSIA. Presiden Rusia, Vladimir Putin menolak cadangan memulakan serangan udara terbaru di bandar Aleppo, dengan alasan memberi ruang kepada misi bantuan kemanusiaan.

"Presiden Rusia beranggapan adalah tidak wajar untuk memulakan serangan udara  di Aleppo buat masa ini. Beliau percaya rakyat yang cedera dan militan yang menyerah diri perlu diberi masa untuk keluar dari Aleppo," kata jurucakap Kremlin, Dmitry Peskov dalam sidang media di Moscow, kelmarin.

Aleppo, bandar kedua terbesar di Syria dikuasai tentera kerajaan barat dan  militan  timur.

Tentera kerajaan disokong Rusia memulakan serangan besar-besaran ke atas bandar itu sejak 22 September lalu. - Press TV

Putin tolak cadangan serangan udara terbaru


30 OKTOBER 2016
Vladimir Putin

Vladimir Putin
MOSCOW - RUSIA. Presiden Rusia, Vladimir Putin menolak cadangan memulakan serangan udara terbaru di bandar Aleppo, dengan alasan memberi ruang kepada misi bantuan kemanusiaan.

"Presiden Rusia beranggapan adalah tidak wajar untuk memulakan serangan udara  di Aleppo buat masa ini. Beliau percaya rakyat yang cedera dan militan yang menyerah diri perlu diberi masa untuk keluar dari Aleppo," kata jurucakap Kremlin, Dmitry Peskov dalam sidang media di Moscow, kelmarin.

Aleppo, bandar kedua terbesar di Syria dikuasai tentera kerajaan barat dan  militan  timur.

Tentera kerajaan disokong Rusia memulakan serangan besar-besaran ke atas bandar itu sejak 22 September lalu. - Press TV

Putin tolak cadangan serangan udara terbaru


30 OKTOBER 2016
Vladimir Putin

Vladimir Putin
MOSCOW - RUSIA. Presiden Rusia, Vladimir Putin menolak cadangan memulakan serangan udara terbaru di bandar Aleppo, dengan alasan memberi ruang kepada misi bantuan kemanusiaan.

"Presiden Rusia beranggapan adalah tidak wajar untuk memulakan serangan udara  di Aleppo buat masa ini. Beliau percaya rakyat yang cedera dan militan yang menyerah diri perlu diberi masa untuk keluar dari Aleppo," kata jurucakap Kremlin, Dmitry Peskov dalam sidang media di Moscow, kelmarin.

Aleppo, bandar kedua terbesar di Syria dikuasai tentera kerajaan barat dan  militan  timur.

Tentera kerajaan disokong Rusia memulakan serangan besar-besaran ke atas bandar itu sejak 22 September lalu. - Press TV

Putin tolak cadangan serangan udara terbaru


30 OKTOBER 2016
Vladimir Putin

Vladimir Putin
MOSCOW - RUSIA. Presiden Rusia, Vladimir Putin menolak cadangan memulakan serangan udara terbaru di bandar Aleppo, dengan alasan memberi ruang kepada misi bantuan kemanusiaan.

"Presiden Rusia beranggapan adalah tidak wajar untuk memulakan serangan udara  di Aleppo buat masa ini. Beliau percaya rakyat yang cedera dan militan yang menyerah diri perlu diberi masa untuk keluar dari Aleppo," kata jurucakap Kremlin, Dmitry Peskov dalam sidang media di Moscow, kelmarin.

Aleppo, bandar kedua terbesar di Syria dikuasai tentera kerajaan barat dan  militan  timur.

Tentera kerajaan disokong Rusia memulakan serangan besar-besaran ke atas bandar itu sejak 22 September lalu. - Press TV

Rusia gagal kekal dalam UNHRC


30 Oktober 2016 12:16 AM
CAMPUR tangan Rusia dalam konflik Syria mengundang gesaan antarabangsa


CAMPUR tangan Rusia dalam konflik Syria mengundang gesaan antarabangsa supaya Moscow dikeluarkan daripada UNHRC. AFP
NEW YORK 29 Okt. – Rusia gagal mengumpul cukup undi di Perhimpunan Agung Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) untuk dipilih semula sekali gus meneruskan penggal selama tiga tahun dalam Majlis Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC).

Moscow kalah dalam pemilihan semula itu kepada Hungary dan Croatia, kekalahan yang didakwa menggambarkan kemarahan antarabangsa dengan pembabitan Rusia di sebalik perang saudara di Syria.

Hungary dan Croatia akan mewakili negara Eropah Timur dalam UNHRC yang dianggotai 47 buah negara.

Kegagalan pencalonan Rusia itu nyata mengejutkan diplomat dan pemerhati yang kebanyakannya percaya Moscow akan kekal bagi satu penggal dalam UNHRC di sebalik rekod mereka di Syria.

Hungary dan Croatia, masing-masing mengumpul 144 undi dari­pada 193 anggota pertubuhan itu sekali gus memenangi dua kerusi yang diperuntukkan untuk negara Eropah Timur dalam majlis tersebut.

Rusia bagaimanapun hanya mendapat 112 undi ketika calon bukan pilihan, Arab Saudi berjaya mempertahankan penggal mereka dalam badan itu.

Baru-baru ini, kumpulan Human Right Watch memberi amaran bahawa Rusia dan Arab Saudi tidak layak untuk berkhidmat dalam UNHRC. – AFP/DPA

Saturday, 29 October 2016

Rusia nafi serang sekolah


29 OKTOBER 2016
Rusia nafi serang sekolah

Rusia nafi serang sekolah Seorang kanak-kanak Syria dirawat di sebuah hospital, selepas terkena serangan udara bandar Douma, timur Damsyik pada 26 Oktober lalu. - Foto AFP
MOSCOW - RUSIA. Kerajaan Rusia menafikan terlibat dalam serangan udara yang menyasarkan sebuah sekolah di Syria, 26 Oktober lalu dan menolak siasatan dibuat Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) yang mendakwa sekutunya di Damsyik menggunakan senjata kimia.

Setiausaha Agung PBB, Ban Ki-moon menuntut siasatan segera dilakukan ke atas serangan terhadap sebuah sekolah Rabu lalu, di wilayah Idlib yang dikuasai pemberontak, sambil menyatakan sekiranya serangan itu disengajakan, ia boleh dianggap sebagai jenayah perang.

Tentera Rusia yang menyertai pertempuran di Syria sejak September tahun lalu menafikan terlibat dalam serangan mengakibatkan 22 pelajar dan enam guru terbunuh, berdasarkan laporan agensi Tabung Kanak-Kanak Bangsa-Bangsa Bersatu (Unicef).

"Persekutuan Rusia tidak terlibat dalam serangan ataupun tragedi buruk itu," kata jurucakap Menteri Luar, Maria Zakharova yang juga mendakwa laporan pesawat pejuang Rusia dan Syria melancarkan serangan adalah satu penipuan selain penafian Menteri Pertahanan Rusia.

"Pada 26 Oktober lalu, tidak ada satu pun pesawat Rusia memasuki kawasan itu," kata jurucakap Menteri Pertahanan, Igor Konashenkov. - Reuters

Pemisah Syria lancar serangan besar-besaran di Aleppo

SABTU, 29 OKTOBER 2016 @ 11:19 AM



ASAP tebal naik ke udara berdekatan laluan menuju Lapangan Terbang Antarabangsa Aleppo, Syria. - Foto Reuters

 ALEPPO: Pemisah Syria melancarkan serangan besar-besaran bertujuan memecahkan kepungan di daerah dikuasai pembangkang selama beberapa bulan di Aleppo, ketika sekutu rejim Russia menangguhkan serangan udara.

Pertempuran sengit, pengeboman dan bom kereta yang menggegarkan bandar raya di utara itu meragut sekurang-kurangnya 18 anggota tentera rejim dan anggota sekutu, menurut Pemerhati Hak Asasi Manusia Syria (SOHR), tetapi tidak dapat memberikan angka kematian dalam kalangan pemisah. Pernah menjadi kuasa ekonomi Syria, Aleppo digegarkan dengan konflik yang bermula Mac 2011 dengan bantahan antikerajaan dan sudah membunuh lebih 300,000 orang.

 Mengambil alih kawalan bandar raya itu, yang terbahagi antara timur yang dikuasai pemisah dan barat di tangan rejim Presiden Bashar al-Assad, adalah kunci menguasai utara Syria.

Serangan pada Jumaat dilancarkan lebih tiga bulan selepas timur Aleppo dikepung tentera kerajaan, yang dihuni lebih 250,000 penduduk, dan beberapa minggu selepas tentera memulakan operasi menawan semula timur bandar raya itu.

Kumpulan pemisah 'mengumumkan permulaan peperangan memecahkan kepungan di Aleppo', kata komander dan jurucakap kumpulan Ahrar al-Sham, Abu Yusef Muhajir.

 Serangan 'akan mengakhiri pencerobohan rejim di barat Aleppo dan memecahkan kepungan terhadap penduduk yang terperangkap,' katanya. Kumpulan pemberontak kini menguasai sebahagian besar kawasan kejiranan Dahiyet al-Assad, barat daya Aleppo, dengan pengecualian kawasan yang hampir dengan akademi tentera, menurut SOHR. - AFP

Selanjutnya di : http://www.bharian.com.my/node/207164

Syria guna kelaparan 'senjata perang' - AS

SABTU, 29 OKTOBER 2016 @ 10:33 AM
 FOTO hiasan. - Foto Reuters   

WASHINGTON: Amerika Syarikat (AS) menuduh rejim Syria menggunakan 'kelaparan' sebagai senjata perang', menurut Konvensyen Geneva, sekali gus meningkatkan retorik terhadap Presiden Bashar al-Assad dan penyokong kuatnya, Russia.

Menolak dakwaan Kremlin bahawa serangan ke atas Aleppo sudah dihentikan, pegawai AS memberitahu, 'rejim menolak permintaan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) untuk menghantar bantuan ke Aleppo Timur, menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Ia mencerminkan larangan Konvensyen Geneva menjadikan penduduk awam yang kelaparan sebagai kaedah perang. Kira-kira suku juta penduduk Aleppo dikepung dan dibom selama beberapa bulan, mencetuskan kemarahan antarabangsa.

Washington, buat masa ini menimbangkan sekatan seterusnya terhadap Syria dan membawa keadilan ke Mahkamah Jenayah Antarabangsa di The Hague. Pegawai berharap Presiden Vladimir Putin mungkin memikirkan semula pembabitan negaranya dalam perang yang menyaksikan senjata kimia dan bom tong digunakan terhadap penduduk awam. Terdahulu, Russia gagal memperoleh pemilihan semula di Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB), yang menjadi tamparan diplomatik hebat kepada negara itu.

 "Kami mengambil beberapa langkah, sama ada meningkatkan tekanan awam atau bentuk tekanan lain. "Kami masih meneliti cara membuatkan mereka berasa bebanan kritikan antarabangsa. Kami ada beberapa petunjuk mereka tidak mahu dinilai sebagai bersalah melakukan jenayah perang, terutama Russia," kata pegawai kanan pentadbiran Presiden Barack Obama. - AFP
Selanjutnya di : http://www.bharian.com.my/node/207150

Jet pejuang Russia, AS hampir bertembung

DUNIA SABTU, 29 OKTOBER 2016 @ 8:20 AM


JET Sukhoi SU-35 milik Russia. - Foto hiasan  


DAMSYIK: Jet pejuang Russia terbang secara bahaya berhampiran pesawat tempur Amerika Syarikat (AS) di timur Syria, kata pegawai pertahanan AS sehingga menonjolkan risiko kesilapan serius di ruang udara yang semakin sesak itu.

Kejadian 'hampir bertembung' itu berlaku pada lewat 17 Oktober, apabila jet Russia yang mengiringi kapal terbang pengintip lebih besar dipandu berhampiran pesawat tempur Amerika, kata jurucakap Tentera Udara, Leftenan Jeneral Jeff Harrigian.


Jet Russia berkenaan menghampiri pada jarak setengah kilometer dari pesawat Amerika.

Seorang lagi pegawai tentera Amerika yang enggan dikenali berkata, juruterbang pesawat Amerika terasa dipukul akibat pergolakan enjin jet Russia. Juruterbang Russia tidak nampak jet Amerika sama ada dalam radar atau secara visual.

Keadaan gelap dan pesawat terbang tanpa lampu. Kejadian itu membangkitkan persoalan serius mengenai sehingga tahap mana juruterbang dalam mengesan ruang udara kompleks yang diharungi mereka.

 Bimbang dengan kejadian seumpama itu, tentera pakatan diketuai Amerika menubuhkan hotline dengan Russia untuk membincangkan lokasi tepat dan misi pesawat.

 Dalam kes ini, juruterbang Amerika cuba menghubungi jet Russia menerusi rangkaian radio kecemasan Russia tetapi gagal. - AFP

Selanjutnya di : http://www.bharian.com.my/node/207140

Friday, 28 October 2016

Sekolah dibedil, puluhan maut


28 OKTOBER 2016
Sekolah dibedil, puluhan maut

Sekolah dibedil, puluhan maut Kanak-kanak di Syria terus menjadi mangsa konflik berlarutan di negara itu.
NEW YORK - AMERIKA SYARIKAT. Sekurang-kurangnya 22 kanak-kanak dan enam guru terbunuh dalam serangan udara menyasarkan sebuah sekolah di wilayah dikuasai kumpulan pemberontak di Idlib, barat laut Syria, menurut Tabung Kanak-Kanak PBB (Unicef), kelmarin.

"Ia adalah satu tragedi. Jika serangan itu disengajakan, ia adalah satu jenayah perang," kata Pengarahnya, Anthony Lake.

Kawasan sekolah itu sering menjadi sasaran bedilan dan ia disifatkan sebagai serangan paling berdarah ke atas sekolah sejak Syria terjerumus ke dalam kancah perang saudara pada 2011.

Sementara itu, Pusat Pemerhati Hak Asasi Manusia Syria (SOHR) memaklumkan beberapa pesawat perang sama ada milik Rusia atau Syria melancarkan enam serangan pada jam 11.30 pagi (waktu tempatan) di perkampungan Hass termasuk sebuah kompleks sekolah dan meragut nyawa sekurang-kurangnya 35 orang awam termasuk 11 murid.

Sebelum ini. tentera rejim Presiden Bashar al-Assad dan sekutunya, Rusia pernah dituduh oleh kumpulan hak asasi manusia melancarkan serangan rambang ke atas infrastruktur awam, lapor AFP.

Pelajar antara 22 terbunuh di Idlib



SUKARELAWAN Syria yang dikenali sebagai White Helmets mencari mangsa yang mungkin tertimbus dalam runtuhan bangunan di Kampung Hass selepas serangan udara, semalam. - AP


Beirut: Sekurang-kurangnya tujuh kanak-kanak adalah antara 22 orang awam yang terbunuh dalam serangan udara yang menyasarkan sebuah sekolah dan kawasan sekitar di Idlib, wilayah di barat daya Syria, semalam.

Kumpulan Pemerhati Hak Asasi Syria berkata, pesawat, sama ada milik tentera Russia atau Syria, melakukan enam serangan di Kampung Hass, termasuk di sebuah kompleks sekolah.

Serangan itu dilakukan sekitar jam 11.30 pagi (4.30 petang waktu Malaysia.)

“Satu roket disasarkan pada pintu masuk sebuah sekolah ketika pelajar bersiap sedia untuk pulang selepas pihak sekolah mengambil keputusan menamatkan persekolahan lebih awal kerana serangan udara itu,” kata seorang penduduk.

Idlib dikuasai Tentera Penakluk, antara kumpulan yang menentang rejim Presiden Bashar al-Assad.

Ia menjadi sasaran serangan besar-besaran sejak beberapa minggu lalu.

Lebih 300,000 orang terbunuh sejak konflik meletus di Syria pada Mac 2011, bermula dengan tunjuk perasaan antikerajaan. - Agensi
Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 27 Oktober 2016 @ 9:37 AM

Serangan udara bunuh 22 kanak-kanak






AFP - KEADAAN sebuah kelas yang musnah akibat serangan udara di perkampungan Hass, selatan Syria kelmarin.

DAMSYIK – Sekurang-kurangnya 22 kanak-kanak dan enam guru terbunuh selepas serangan udara mengenai sebuah sekolah di wilayah Idlib yang dikuasai pihak penentang di barat laut Syria, kata Tabung Kecemasan Kanak-kanak Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (UNICEF) kelmarin.

“Pengeboman ini satu tragedi. Ia mencetuskan kemarahan dan sekiranya serangan ini sengaja dilakukan, ia adalah jenayah perang,” kata pengarah UNICEF, Anthony Lake.

Kumpulan Pemerhati Hak Asasi Manusia Syria berkata, jet-jet perang kemungkinan milik Rusia atau Syria telah melancarkan enam serangan udara di perkampungan Hass termasuk ke atas sebuah bangunan sekolah, membunuh sekurang-kurangnya 35 orang awam termasuk 11 murid sekolah.

Lake berkata, pekarangan sekolah itu diserang berulang kali sambil menambah, serangan itu adalah yang pa­ling dahsyat ke atas sekolah di Syria sejak perang saudara tercetus lebih lima tahun lalu.

Ketika ditanya mengenai serangan itu, Duta Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu Rusia di Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu, Vitaly Churkin menjawab: “Ia dahsyat, amat dahsyat. Saya berharap Rusia tidak terlibat.

Tentera Syria dan sekutunya, Rusia bagaimanapun sering dituduh oleh melancarkan serangan secara sembarangan termasuk ke atas infrastruktur awam.

Serangan udara kelmarin mengenai perkampungan Hass sekitar pukul 11.30 pagi (waktu tempatan), kata seorang aktivis. Wilayah Idlib dikuasai oleh gabungan penentang yang dikenali sebagai Tentera Penakluk. Pakatan tersebut turut dis



Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2016&dt=1028&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_02.htm#ixzz4OM01o8Xw
Hakcipta terpelihara 

Anggota militan bersiap boloskan diri ke Syria


28 Oktober 2016 12:33 AM
Pasukan polis persekutuan Iraq melancarkan serangan roket  terhadap

Pasukan polis persekutuan Iraq melancarkan serangan roket terhadap militan di selatan Mosul.
KHAZIR, Iraq 27 Okt. – Anggota kumpulan pengganas Daesh kini terpaksa mencukur jambang dan menukar tempat persembunyian mereka di bandar Mosul beriku­t­an kemaraan tentera Iraq, kata penduduk tempatan.

Kemaraan tentera berkenaan ke Mosul yang kini memasuki hari ke-10 memberi peluang kepada ketua-ketua pertahanan dari Barat menyasarkan serangan kepada kubu kuat kumpulan Daesh yang seterusnya iaitu Raqa di Syria.

Menurut penduduk tempatan, pada masa ini, tentera elit Iran berada dalam jarak lima kilometer dari Mosul manakala anggota kumpulan Daesh dilihat sedang bersiap sedia untuk menyerang bandar tersebut.

‘Saya ternampak beberapa anggota Daesh dan penampilan mereka kelihatan berbeza daripada sebelumnya, mereka telah mencukur jambang dan menukar pakaian, mungkin mereka takut atau sedang bersiap sedia me­ninggalkan Mosul,’’ kata seorang penduduk Mosul, Abu Saif.

Pnduduk tempatan dan pegawai tentera berkata, ramai anggota Daesh telah berpindah lokasi di Mosul iaitu dari kubu lama mereka di barat tebing sungai Tigris ke kawasan yang memudahkan mereka memboloskan diri ke Syria.

Pertempuran di utara dan timur Mosul juga boleh didengari dalam bandar tersebut manakala pesawat pejuang tentera pakatan yang diketuai Amerika Syarikat (AS) dilihat terbang lebih rendah daripada kebiasaannya.

Dalam pada itu, ketua pasukan tentera AS, Jeneral Joseph Votel mendakwa kira-kira 900 anggota Daesh berjaya dibunuh sejak operasi menawan semula Mosul oleh tentera Iraq bermula.

Serangan tentera Iraq dibantu dari udara dan darat oleh tentera pakatan tersebut yang turut dianggotai Britain dan Perancis.

Tentera Iraq dan sekutunya, pejuang Kurdish berjaya menawan beberapa bandar dan kampung serta semakin mara ke bandar itu sejak seminggu lalu.

Sementara itu, Setiausaha Pertahanan AS, Ashton Carter dan rakan sejawatnya dari Britain, Michael Fallon semalam menjangkakan serangan terhadap Raqa akan dilancarkan dalam minggu ini. – AFP

Rusia dedah misil nuklear terbesar


27 Oktober 2016 12:25 AM
MISIL Sarmat RS-28 atau dikenali sebagai Satan 2 akan dilancarkan

MISIL Sarmat RS-28 atau dikenali sebagai Satan 2 akan dilancarkan oleh Rusia pada lewat 2018. AGENSI
MOSCOW 26 Okt. – Rusia mendedahkan beberapa keping gambar yang menunjukkan misil nuklear terbesarnya dan dikatakan mampu memusnahkan kawasan sebesar sebuah negara Perancis.

Menurut Mail Online, misil berkenaan yang diberi nama RS-28 itu dan digelar Satan 2 oleh Pertubuhan Perjanjian Atlantik Utara (NATO), mempunyai kelajuan maksimum sehingga tujuh kilometer per saat dan direka untuk mengatasi sistem perisai anti-misil.

Misil Sarmat terbaharu itu boleh melancarkan kepala pele­dak sehingga 40 megaton iaitu 2,000 kali lebih berkuasa berbanding bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki pada 1945.

Dalam pada itu, menurut rangkaian berita Rusia, Zvezda, yang dimiliki oleh Kementerian Perta­hanan Rusia, misil itu mempunyai keupayaan jarak sehingga 10,000 kilometer, yang dikatakan mampu menyerang London dan beberapa bandar Eropah lain serta Amerika Syarikat (AS).

Kementerian Pertahanan da­lam pada itu merancang untuk melaksanakan penggunaan Sarmat pada lewat 2018 dan menggantikan mi­sil ter­da­hulu, SS-18 pada 2020.

Misil terbaharu itu dikatakan sedang menjalani ujian berdekatan Miass di Rusia.

“Misil SS-18 sudah berusia le­bih 30 tahun, jadi walaupun anda mempunyai hubungan yang baik dengan NATO, kamu mesti mahu mengemaskinikan peluru berpandu anda.

“Tetapi Presiden Rusia, Vladi­mir Putin tentu gembira ke­ra­na langkah itu digambarkan sebagai satu langkah agresif. Beliau mahu menunjukkan kepentingannya,” kata seorang pakar nuklear di Institut Perkhidmatan Bersatu Diraja London, Igor Sutyagin.

Thursday, 27 October 2016

Russia lancar kapal selam super-stealth terbaharu

KHAMIS, 27 OKTOBER 2016 @ 8:09 AM



RUSSIA melancarkan edisi terbaharu kapal selam diesel-elektrik super-stealth, Veliky Novgorod pada Rabu yang mengguna pakai kemajuan teknologi stealth dan mempertingkat keupayaan tempur. - Foto ihsan PressTV

MOSCOW: Russia melancarkan edisi terbaharu kapal selam diesel-elektrik super-stealth, Veliky Novgorod pada Rabu yang mengguna pakai kemajuan teknologi stealth dan mempertingkat keupayaan tempur. Edisi terbaharu yang memperlengkapkan lagi Angkatan Laut Hitam itu berupaya menyerang sasaran di darat, laut dan di dalam air. Ia dilancarkan secara rasmi dari Admiralty Shipyard di St Petersburg di hadapan Timbalan Komander Tentera Laut Russia, Laksamana Madya Aleksandr Fedotenko dan Ketua Pegawai Eksekutif Admiralty Shipyard, Alexander Kazakov. Kapal selam yang direka khusus untuk operasi anti-kapal dan anti-kapal selam di perairan dengan kedalaman sederhana itu berupaya membawa 52 anak kapal, dengan kelajuan tertinggi 20 knot dan belayar sehingga 643 kilometer. Ia berupaya untuk kekal di bawah air selama 45 hari dan lengkap dengan 18 peluru berpandu serta lapan senjata permukaan ke air. - Agensi

Selanjutnya di : http://www.bharian.com.my/node/206415

26 terkorban serangan udara di Syria

KHAMIS, 27 OKTOBER 2016 @ 8:42 AM

KEADAAN bangunan sekolah yang rosak dalam serangan udara di kampung Haas, Idlib. - Foto Reuters

BEIRUT: Sekurang-kurangnya 26 orang terkorban kebanyakannya kanak-kanak sekolah dalam serangan udara oleh pesawat pejuang Syria atau Russia, di perkampungan dekat kawasan yang dikuasai pemberontak di Idlib, lapor petugas keselamatan dan kumpulan pemerhati.

Serangan itu terkena kawasan kediaman dan sekolah di kampung Haas, kata rangkaian anggota penyelamat Pertahanan Awam Syria di laman Facebook rasmi. Perang saudara ini menyaksikan pergeseran antara Presiden Bashar al-Assad yang disokong Russia, Iran dan militan Syiah dari Lubnan, Iraq dan Afghanistan menentang kumpulan pemberontak Sunnah termasuk yang disokong Turki, monarki Teluk dan Amerika Syarikat.

 Rangkaian Pertahanan Awam yang beroperasi di kawasan dikuasai pemberontak di negara itu berkata 20 daripada mangsa serangan semalam adalah kanak-kanak. Bagaimanapun, Laporan stesen TV rasmi Syria yang memetik sumber tentera sebagai berkata sejumlah anggota militan terbunuh apabila lokasi mereka dibedil di Haas, namun tidak menyebut ia turut terkena sebuah sekolah. - Reuters

Selanjutnya di : http://www.bharian.com.my/node/206427

Kanak-Kanak Antara 26 Maut Serangan Udara Idlib


Diterbitkan: Khamis, 27 Oktober 2016 10:49 AM

BEIRUT: Serangan udara yang menyasarkan kawasan kediaman dan sekolah di Idlib mengakibatkan 26 terkorban termasuk kanak-kanak.
Kejadian di wilayah barat daya Syria itu berlaku pada Rabu dipercayai melibatkan pesawat sama ada milik tentera Russia atau Syria.
Kumpulan Pemerhati Hak Asasi Syria berkata, pesawat, sama ada milik tentera Russia atau Syria, melakukan enam serangan di Kampung Hass, termasuk di sebuah kompleks sekolah.
Serangan itu dilakukan sekitar jam 11.30 pagi (4.30 petang waktu Malaysia.)
“Satu roket disasarkan pada pintu masuk sebuah sekolah ketika pelajar bersiap sedia untuk pulang selepas pihak sekolah mengambil keputusan menamatkan persekolahan lebih awal kerana serangan udara itu,” kata seorang penduduk.
Idlib dikuasai Tentera Penakluk, antara kumpulan yang menentang rejim Presiden Bashar al-Assad.
Perang saudara ini menyaksikan pergeseran antara Presiden Bashar al-Assad yang disokong Russia, Iran dan militan Syiah dari Lubnan, Iraq dan Afghanistan menentang kumpulan pemberontak Sunnah termasuk yang disokong Turki, monarki Teluk dan Amerika Syarikat.
Lebih 300,000 orang terbunuh sejak konflik meletus di Syria pada Mac 2011, bermula dengan tunjuk perasaan antikerajaan. 

Pelajar antara 22 terbunuh di Idlib




SUKARELAWAN Syria yang dikenali sebagai White Helmets mencari mangsa yang mungkin tertimbus dalam runtuhan bangunan di Kampung Hass selepas serangan udara, semalam. - AP



Beirut: Sekurang-kurangnya tujuh kanak-kanak adalah antara 22 orang awam yang terbunuh dalam serangan udara yang menyasarkan sebuah sekolah dan kawasan sekitar di Idlib, wilayah di barat daya Syria, semalam.

Kumpulan Pemerhati Hak Asasi Syria berkata, pesawat, sama ada milik tentera Russia atau Syria, melakukan enam serangan di Kampung Hass, termasuk di sebuah kompleks sekolah.

Serangan itu dilakukan sekitar jam 11.30 pagi (4.30 petang waktu Malaysia.)

“Satu roket disasarkan pada pintu masuk sebuah sekolah ketika pelajar bersiap sedia untuk pulang selepas pihak sekolah mengambil keputusan menamatkan persekolahan lebih awal kerana serangan udara itu,” kata seorang penduduk.

Idlib dikuasai Tentera Penakluk, antara kumpulan yang menentang rejim Presiden Bashar al-Assad.

Ia menjadi sasaran serangan besar-besaran sejak beberapa minggu lalu.

Lebih 300,000 orang terbunuh sejak konflik meletus di Syria pada Mac 2011, bermula dengan tunjuk perasaan antikerajaan. - Agensi
Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 27 Oktober 2016 @ 9:37 AM

Pelajar antara 22 terbunuh di Idlib




SUKARELAWAN Syria yang dikenali sebagai White Helmets mencari mangsa yang mungkin tertimbus dalam runtuhan bangunan di Kampung Hass selepas serangan udara, semalam. - AP



Beirut: Sekurang-kurangnya tujuh kanak-kanak adalah antara 22 orang awam yang terbunuh dalam serangan udara yang menyasarkan sebuah sekolah dan kawasan sekitar di Idlib, wilayah di barat daya Syria, semalam.

Kumpulan Pemerhati Hak Asasi Syria berkata, pesawat, sama ada milik tentera Russia atau Syria, melakukan enam serangan di Kampung Hass, termasuk di sebuah kompleks sekolah.

Serangan itu dilakukan sekitar jam 11.30 pagi (4.30 petang waktu Malaysia.)

“Satu roket disasarkan pada pintu masuk sebuah sekolah ketika pelajar bersiap sedia untuk pulang selepas pihak sekolah mengambil keputusan menamatkan persekolahan lebih awal kerana serangan udara itu,” kata seorang penduduk.

Idlib dikuasai Tentera Penakluk, antara kumpulan yang menentang rejim Presiden Bashar al-Assad.

Ia menjadi sasaran serangan besar-besaran sejak beberapa minggu lalu.

Lebih 300,000 orang terbunuh sejak konflik meletus di Syria pada Mac 2011, bermula dengan tunjuk perasaan antikerajaan. - Agensi
Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 27 Oktober 2016 @ 9:37 AM

Pelajar antara 22 terbunuh di Idlib




SUKARELAWAN Syria yang dikenali sebagai White Helmets mencari mangsa yang mungkin tertimbus dalam runtuhan bangunan di Kampung Hass selepas serangan udara, semalam. - AP



Beirut: Sekurang-kurangnya tujuh kanak-kanak adalah antara 22 orang awam yang terbunuh dalam serangan udara yang menyasarkan sebuah sekolah dan kawasan sekitar di Idlib, wilayah di barat daya Syria, semalam.

Kumpulan Pemerhati Hak Asasi Syria berkata, pesawat, sama ada milik tentera Russia atau Syria, melakukan enam serangan di Kampung Hass, termasuk di sebuah kompleks sekolah.

Serangan itu dilakukan sekitar jam 11.30 pagi (4.30 petang waktu Malaysia.)

“Satu roket disasarkan pada pintu masuk sebuah sekolah ketika pelajar bersiap sedia untuk pulang selepas pihak sekolah mengambil keputusan menamatkan persekolahan lebih awal kerana serangan udara itu,” kata seorang penduduk.

Idlib dikuasai Tentera Penakluk, antara kumpulan yang menentang rejim Presiden Bashar al-Assad.

Ia menjadi sasaran serangan besar-besaran sejak beberapa minggu lalu.

Lebih 300,000 orang terbunuh sejak konflik meletus di Syria pada Mac 2011, bermula dengan tunjuk perasaan antikerajaan. - Agensi
Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 27 Oktober 2016 @ 9:37 AM

Wednesday, 26 October 2016

Desak Russia digugur dari Majlis Hak Asasi Manusia



SUKARELAWAN mencari mangsa di sebalik runtuhan bangunan berikutan serangan udara di Kafar Takharim, bandar yang dikuasai kumpulan penentang Bashar. Bandar berkenaan terletak di wilayah Idlib, barat laut Syria. - AFP



Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu: Lebih 80 organisasi hak asasi manusia dan bantuan kemanusiaan kelmarin mendesak negara anggota Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) menggugurkan Russia dari Majlis Hak Asasi Manusia ekoran kempen ketenteraannya di Syria.

Human Rights Watch, CARE International dan Refugees International antara organisasi yang menandatangani rayuan yang dilancarkan menjelang pemilihan bagi mengisi 14 kerusi di majlis 47 negara itu pada Jumaat ini.

Russia, Hungary dan Croatia berebut dua kerusi yang mewakili kumpulan Eropah Timur di majlis itu yang bertanggungjawab memantau pencabulan hak asasi manusia di seluruh dunia.

Organisasi itu juga menggesa anggota PBB mempersoalkan secara serius adakah peranan Russia di Syria yang termasuk menyokong dan menjalankan aktiviti ketenteraan yang sering menyasarkan orang awam menjadikan Moscow sesuai menganggotai Majlis Hak Asasi Manusia badan itu.

Moscow menyokong Presiden Syria, Bashar al-Assad dalam peperangan melawan kumpulan penentang dan militan Daish sejak September 2015.

Pada Jumaat ini, Perhimpunan Agung PBB akan mengundi untuk memilih anggota di majlis itu untuk penggal tiga tahun bermula 2017.

Selain Russia, China dan Arab Saudi antara paling dijamin memenangi kerusi kerana kumpulan rantau itu menyenaraikan empat negara untuk empat kerusi yang diperuntukkan.

Dua lagi negara adalah Iraq dan Jepun. - AFP
Artikel ini disiarkan pada : Rabu, 26 Oktober 2016 @ 10:06 AM

Tuesday, 25 October 2016

AS kutuk rejim Syria guna senjata kimia





WASHINGTON – Pentadbiran White House kelmarin mengutuk rejim Syria kerana melanggar undang-undang antarabangsa selepas pakar Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) mendapati tentera kerajaan melakukan sekurang-kurangnya tiga serangan senjata kimia ke atas rakyat sendiri pada tahun 2014 dan 2015.

Daripada sembilan serangan senjata kimia yang sedang disiasat, jawatan kuasa siasatan diketuai PBB mendapati sebanyak tiga serangan dilakukan kerajaan Syria dan satu oleh kumpulan Daesh.

“Kami mengutuk sekeras-kerasnya keingkaran rejim Presiden Bashar al-Assad terhadap norma antarabangsa menentang penggunaan senjata kimia dan Syria melanggar tanggungjawab di bawah Konvensyen Senjata Kimia yang disertai pada 2013,” kata jurucakap Majlis Keselamatan Negara, Ned Price dalam satu kenyataan.

“Rejim Syria telah mencabul Konvensyen Senjata Kimia dan Resolusi 2118 Majlis Keselamatan PBB dengan menggunakan klorin industri sebagai senjata ke atas rakyat sendiri,” kata Price.

Beliau memberi amaran bahawa Amerika Syarikat meneruskan usaha bersama rakan sekutunya untuk mendakwa mereka yang bertanggungjawab atas perbuatan itu.

“Kami menggesa semua ahli PBB dan perwakilan dalam Konvensyen Senjata Kimia termasuk Rusia dan Iran yang melakukan operasi ketenteraan bagi rejim Assad untuk menyokong usaha ini tanpa berbelah-bagi dan kekalkan komitmen bersama ke arah standard antarabangsa menentang penggunaan senjata kimia,” katanya.

Pentadbiran Washington dan Moscow berada dalam kemuncak pertelingkahan diplomatik besar disebabkan Rusia memberi sokongan kepada rejim Assad.

“Sokongan ketenteraan Rusia dan ekonomi kepada Syria membolehkan rejim Assad meneruskan kempen ketenteraan terhadap rakyat sendiri. Ia telah melanggar undang-undang antarabangsa, menurut laporan,” kata Price. – AFP



Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2016&dt=1024&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_02.htm#ixzz4O6vzY9pN
Hakcipta terpelihara 

Pemindahan perubatan Syria dijangka bermula esok

Pemindahan perubatan Syria dijangka bermula esok - Luar Negara - Utusan Online:



20 Oktober 2016 11:46 PM

UN



GENEVA 20 Okt. - Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) berharap agar mereka dapat menjalankan pemindahan perubatan pertama dari timur bandar Aleppo esok selepas mendapat kelulusan semua pihak yang berperang di Syria.



Ketua kumpulan petugas kemanusiaan PBB untuk Syria, Jan Egeland berkata, gencatan senjata yang dilaksanakan hari ini berkemungkinan dilanjutkan sehingga empat hari.



“Kami percaya telah mendapat lampu hijau daripada Rusia dan tentera kerajaan Syria serta kumpulan pemberontak bersenjata,” kata Egeland.



Tambah Egeland, jika Rusia dapat menyokong lanjutan gencatan senjata itu, PBB mungkin dapat melaksanakan beratus-ratus pemindahan termasuklah pesakit dan keluarga mereka selain melakukan bantuan kemanusiaan seperti bekalan ubat-ubatan serta makanan kepada 250,000 penduduk di timur Aleppo. - AFP

'via Blog this'

Pelarian, kanak-kanak Syria kerja kilang secara haram

Pelarian, kanak-kanak Syria kerja kilang secara haram - Luar Negara - Utusan Online:



25 Oktober 2016 12:16 AM



KANAK-KANAK pelarian Syria didakwa bekerja secara haram di kilang-kilang
KANAK-KANAK pelarian Syria didakwa bekerja secara haram di kilang-kilang pakaian jenama terkenal dunia di Turki. AGENSI

ISTANBUL 24 Okt. – Portal BBC mendedahkan syarikat pakaian­ berjenama terkenal se­perti Marks and Spencer (M&S), Zara dan Mango serta peruncit dalam talian, Asos, menggunakan pelarian dari Syria termasuk kanak-kanak untuk bekerja secara haram di kilang mereka di Turki.



Siasatan portal berkenaan di kilang-kilang di Turki mendapati, kanak-kanak digunakan untuk membuat pakaian di M&S dan Asos manakala pelarian pula bekerja secara haram membuat seluar jeans di Mango dan Zara.



Walau bagaimanapun kese­mua pemilik jenama terkenal itu menegaskan telah memantau dengan teliti rangkaian pembekal syarikat dan tidak bertolak ansur dengan penindasan terhadap pelarian atau kanak-kanak.



M&S pula memaklumkan, pemeriksaan mereka mendapati tiada pelari­an Syria yang bekerja di rangkaian bekalan syarikat mereka di Turki.



Namun portal berkenaan melalui ruangan Panorama mendapati seramai tujuh kanak-kanak Syria bekerja di salah sebuah kilang utama peruncit Bri­tain itu.



Mangsa dikatakan menerima gaji satu pound (RM5) sejam iaitu di bawah paras gaji minimum di Turki dan dibawa bekerja di kilang terbabit melalui orang tengah yang membayar mereka secara tunai.



Pekerja paling muda merupakan remaja berusia 15 tahun telah bekerja lebih 12 jam menggosok baju sebelum pakaian itu dihantar ke United Kingdom (UK).

'via Blog this'

Monday, 24 October 2016

PULUHAN PASUKAN PYD YANG DIDUKUNG REZIM ASSAD TEWAS


24 Oktober 2016
Puluhan Pasukan PYD yang Didukung Rezim Assad Tewas


SURIAH (Jurnalislam.com) – Koresponden ElDorar AlShamia melaporkan, Ahad (23/10/2016), artileri dan roket peluncur milik rezim al-Assad yang ditempatkan di kota-kota Kevin dan Mayer, pedesaan utara Aleppo untuk mendukung pasukan Uni Demokrat Kurdi (PYD) selama pertempuran meletus hari ini dan kemarin melawan Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army), di dekat Tal Rifat.
Dua hari terakhir telah terjadi pertempuran antara faksi Euphrates Shield yang didukung oleh Angkatan Udara Turki, melawan milisi PYD dalam upaya merebut kembali kontrol atas Tal Rifat, kota yang diduduki oleh milisi PYD serta sekitarnya.
Wartawan ElDorar mengutip sumber-sumber militer dan menegaskan bahwa PYD hari ini mengumumkan pemakaman di kota Afrin bagi lebih dari 23 pasukan PYD yang tewas dalam pertempuran dengan Tentara Pembebasan Suriah, sementara tembakan artileri dan roket rezim al-Assad masih menargetkan kota Mare dan pinggirannya untuk mendukung PYD.
Operasi Perisai Efrat terpaksa dialihkan menuju kota Tal Rifat dan daerah sekitarnya setelah upaya PYD untuk menguasai desa-desa di Selatan Mare dan memotong kemajuan operasi menuju kota strategis al-Bab.

Aleppo digegar serangan lagi

Aleppo digegar serangan lagi | Harian Metro:





Agensi

Aleppo: Pertempuran dan serangan udara menggegarkan bandar Aleppo semalam selepas gencatan senjata tiga hari yang diisytiharkan Russia berakhir.



Gencatan senjata sebelah pihak itu tamat tanpa sebarang pemindahan orang awam yang cedera dari kawasan yang dikuasai kumpulan penentang. Penghantaran bantuan makanan ke kawasan yang terkepung itu juga gagal dilakukan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu.



Kumpulan Pemerhati Hak Asasi Manusia Syria melaporkan, pertempuran sengit berlaku malam kelmarin di sepanjang kawasan yang memisahkan barat Aleppo yang dikuasai kerajaan dan timur yang dikuasai penentang.



Beberapa jam sebelum gencatan senjata itu tamat, kumpulan berkenaan berkata, kedua-dua pihak yang bertentangan dilihat mengukuhkan kedudukan mereka sebagai persediaan menghadapi pertempuran baru.



“Baik rejim mahupun penentang, mereka mengukuhkan kedudukan masing-masing, meningkatkan kebimbangan kemungkinan pertempuran lebih sengit akan meletus,” kata ketua kumpulan, Rami Abdel Rahman.



Bagaimanapun, menjelang pagi, bandar raya itu sepi, tidak pasti sama ada gencatan senjata itu diteruskan atau tidak.



Gencatan berkenaan bertujuan membolehkan orang awam atau anggota penentang meninggalkan timur Aleppo.



Bagaimanapun, hanya segelintir sahaja orang awam yang mengambil kesempatan itu.



Pegawai Russia dan media Syria menuduh penentang menghalang orang ramai meninggalkan kawasan berkenaan dan menggunakan orang awam sebagai ‘perisai manusia.’



Hampir 500 orang terbunuh dan lebih 2,000 cedera sejak tentera Syria yang dibantu Russia, Pengawal Revolusi Iran dan beberapa militia Syiah melancarkan operasi menawan timur Aleppo pada 22 September.



Daerah berkenaan yang dikuasai kumpulan penentang sejak 2012 tidak menerima sebarang bantuan sejak dikepung 7 Julai lalu.



Lebih 300,000 orang terbunuh sejak perang saudara di Syria yang bermula dengan tunjuk perasaan antikerajaan meletus pada Mac 2011.

Artikel ini disiarkan pada : Isnin, 24 Oktober 2016 @ 5:07 AM

'via Blog this'

Sunday, 23 October 2016

Gencatan senjata berterusan di Aleppo, tiada bantuan perubatan, makanan

Gencatan senjata berterusan di Aleppo, tiada bantuan perubatan, makanan - Luar Negara - Utusan Online:



REUTERS  |  23 Oktober 2016 2:20 AM

 



BEIRUT 23 Okt. - Keadaan masih lagi aman di timur bandar Aleppo, utara Syria selepas gencatan senjata yang masuk hari ketiga, namun demikian belum ada sebarang penghantaran bantuan makanan serta perubatan setakat ini masuk ke kawasan itu.



Menurut Pemantau Hak Asasi Manusia Syria, tidak ada sebarang serangan udara oleh tentera Syria mahupun Rusia sebaliknya keadaan sangat tenang tidak seperti selalu yang hiruk pikuk dengan bunyi senjata dan ledakan bom.



“Namun setakat ini, belum ada sebarang bantuan perubatan serta makanan tiba,” katanya dalam kenyataan.



Sebelum ini, Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) berharap agar mereka dapat menjalankan pemindahan perubatan pertama dari timur bandar Aleppo selepas mendapat kelulusan semua pihak yang berperang di Syria.



Ketua kumpulan petugas kemanusiaan PBB untuk Syria, Jan Egeland berkata, gencatan senjata yang dilaksanakan kelmarin berkemungkinan dilanjutkan sehingga empat hari.



“Kami percaya telah mendapat lampu hijau daripada Rusia dan tentera kerajaan Syria serta kumpulan pemberontak bersenjata,” kata Egeland.



PBB mungkin dapat melaksanakan beratus-ratus pemindahan termasuklah pesakit dan keluarga mereka selain melakukan bantuan kemanusiaan seperti bekalan ubat-ubatan serta makanan kepada 250,000 penduduk di timur Aleppo. - REUTERS

'via Blog this'

Friday, 21 October 2016

WARGA SIPIL ALEPPO TOLAK UNTUK MENINGGALKAN KOTA


21 Oktober 2016

Warga sipil Aleppo Tolak untuk Meninggalkan Kota

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Unjuk rasa meletus pada Kamis malam di distrik-distrik timur Aleppo yang terkepung, di mana penduduk daerah tersebut mengkonfirmasi mereka menguasai kota dan menyatakan penolakan mereka untuk pergi, ElDorar AlShamia melaporkan, Kamis (20/10/2016).
Aksi dukungan menyambut faksi Syrian Resistance yang menggagalkan serangan sengit terhadap kota, mengecam serangan yang dilakukan oleh pasukan Syiah Nushairiyah Assad dan sekutunya (Rusia dan Iran), untuk menekankan kepatuhan penduduk terhadap mereka – namun mereka  bertekad untuk tinggal di lingkungan mereka dan tetap bertahan.
Koalisi pejuang Suriah di Aleppo mengatakan, tujuan Moskow dan rezim Syiah Bashar al-Assad adalah mengosongkan warga sipil di daerah yang dikuasai mujahidin dan para pejuang oposisi  sehingga mereka dapat mengambil alih seluruh kota.
“Mereka berbicara tentang koridor kemanusiaan, tapi mengapa mereka tidak mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan untuk masuk ke Aleppo timur yang terkepung meringankan penderitaan kami? Kami hanya ingin pembom Rusia menghentikan pembunuhan anak-anak kami. Kami tidak ingin pergi,” kata Ammar al-Qaran, penduduk di distrik Sakhour kepada Aljazeera.
Bagian Timur Aleppo yang terkepung mulai hidup dalam keadaan tenang setelah gencatan senjata diumumkan oleh Rusia, yang akan diperpanjang dalam upaya menekan rakyat dan faksi perlawanan untuk keluar menuju provinsi Idlib, tapi di hari pertama gencatan senjata tidak ada keluarga yang pergi ke arah jalur keluar.