Friday, 15 January 2016

Turki balas dendam

Ankara: Tentera darat Turki membedil hampir 500 kali ke atas kubu militan Negara Islam (IS) di Syria dan Iraq, membunuh hampir 200 anggota militan itu.
Serangan itu sebagai tindak balas terhadap serangan di Istanbul Selasa lalu yang mengorbankan 10 pelancong Jerman, kata Perdana Menteri, Ahmet Davutoglu.
“Turki juga akan melakukan serangan udara ke atas kumpulan radikal Sunni itu sekiranya diperlukan dan kekal dengan pendirian tegasnya untuk memastikan IS meninggalkan kawasan sempadannya,” kata Ahmed pada persidangan duta Turki di Ankara.
Pengebom berkenaan meletupkan dirinya Selasa lalu di tengah sekumpulan pelancong di kawasan bersejarah di Istanbul. Kelmarin, Ahmed berkata, penyerang itu ialah anggota IS yang memasuki Turki dari Syria sebagai pelarian.
“Selepas kejadian Selasa lalu, hampir 500 tembakan meriam dilancarkan terhadap kedudukan Daesh di Syria dan Iraq,” kata perdana menteri itu, menggunakan istilah bahasa Arab untuk IS.
Dia juga berkata, hampir 200 anggota militan berkenaan terbunuh sepanjang 48 jam lalu.
“Selepas ini, setiap ancaman terhadap Turki akan dibalas sedemikian,” katanya.
Turki, anggota Pertubuhan Perjanjian Atlantik Utara (NATO) dan menyertai gabungan menentang IS yang diketuai Amerika Syarikat berulang kali menegaskan mahu mengusir IS dari zon di utara Syria yang berhampiran sempadan.
Kapal terbang perang Turki tidak terbang di ruang Syria sejak negara itu menembak jatuh sebuah jet Russia akhir November lalu hingga mencetuskan perbalahan diplomatik dengan Moscow, yang juga melakukan serangan udara di Syria.
Artikel ini disiarkan pada : Jumaat, 15 January 2016 @ 8:00 AM


SEORANG lelaki meletakkan bunga teluki di lokasi letupan di Sultanahmet, Istanbul, semalam.
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/107415#sthash.vsMARjMp.dpuf

Charlie Hebdo buat hal lagi

15 JANUARI 2016
Charlie Hebdo buat hal lagi

Kartun Charlie Hebdo yang menghina kanak-kanak Syria yang mati lemas, Aylan Kurdi.

PARIS - PERANCIS. Majalah satira Perancis, Charlie Hebdo menimbulkan kontroversi sekali lagi selepas menggambarkan Aylan Kurdi, kanak-kanak Syria yang ditemui mati lemas sebagai pencabul.
"Apakah akan jadi kepada si kecil Aylan jika dia membesar? (menjadi) pencabul di Jerman," kata kapsyen kartun tersebut.
Menurut Al-Jazeera, kartun tersebut dibuat selepas timbul kes pencabulan di Cologne, Jerman baru-baru ini yang didakwa dilakukan oleh migran, termasuk pelarian Syria.
Kartun tersebut menimbulkan kemarahan orang ramai dan warga maya kini mengecam majalah berkenaan.
"Tidak berhati perut dan rasis!" kata wartawan, Hala Jaber di laman Twitter.
"Chalie Hebdo menggunakan alasan kebebasan bersuara untuk menjadi racis dan kurang ajar," kata Chris Taylor
.

50 trak bantuan lagi ke Madaya

15 Januari 2016 12:31 AM

A convoy of aid from the Syrian Arab Red Crescent heads to the

 Konvoi bantuan daripada Persatuan Bulan Sabit Arab Syria bergerak menuju bandar Madaya, yang dikepung tentera kerajaan, semalam. – AFP


 DAMSYIK 14 Jan. - Sebanyak 50 trak yang membawa bekalan bantuan kemanusiaan menuju ke Madaya, hari ini bagi membantu penduduk di bandar itu yang kebuluran akibat dikepung tentera kerajaan sejak enam bulan lalu.
Menurut seorang wartawan AFP, trak-trak yang membawa bekalan makanan termasuk gandum, bantuan perubatan dan produk kebersihan dihantar ke bandar itu, selepas berpuluh-puluh penduduk di bandar tersebut dilaporkan mati kebuluran sejak bulan lalu.
Isnin lalu, satu konvoi bantuan kemanusiaan mula memasuki bandar Madaya, bagi menyerahkan bantuan kemanusiaan buat kali pertama dalam tempoh enam bulan.
Jurucakap Jawatankuasa Palang Merah Antarabangsa (ICRC), Pawel Krzysiek mengesahkan konvoi baharu bantuan kini dalam perjalanan dari Damsyik ke Madaya.
“Keutamaan adalah tepung gandum dan bantuan perubatan, kumpulan ICRC turut membawa pakar pemakanan untuk membuat pemeriksaan ke atas penduduk,” katanya.
Sementara itu, dalam konvoi berasingan terdiri daripada 17 buah trakmembawa bantuan meninggalkan bandar Fuaa dan Kafraya di barat laut negara ini yang dikuasai kumpulan penentang kerajaan.
Jurucakap Penyelaras Hal Ehwal Kemanusiaan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (OCHA), Linda Tom berkata, kumpulan ketiga konvoi bantuan akan masuk ke bandar-bandar terbabit dalam masa terdekat. – AFP
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/50-trak-bantuan-lagi-ke-madaya-1.179646#sthash.YAOiAl62.dpuf

Thursday, 14 January 2016

Bukan hanya Madaya, sejumlah kota dan desa di Suriah ini juga dikepung rezim Asad


Kamis, 4 Rabiul Akhir 1437 H / 14 Januari 2016 19:15
-->
Bukan hanya Madaya, sejumlah kota dan desa di Suriah ini juga dikepung rezim Asad
.

SURIAH (Arrahmah.com) – Warga dari 13 kota dan desa-desa Suriah yang dikepung oleh rezim Asad dan sekutunya saat ini menghadapi bencana kelaparan, ungkap sumber-sumber lokal sebagaimana dilansir Anadolu Agency pada Rabu (13/1/2016).
Di antara kota-kota dan desa-desa yang menghadapi bencana kelaparan di Suriah itu ialah:

Jayrud, Rabayah
Jayrud dan Rabayah, keduanya terletak di Damaskus timur, menghadapi serangan yang sering diluncurkan oleh rezim Asad dan kelompok “Daulah Islamiyah”, atau Islamic State(IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS. Kedua kota itu terus berada di bawah blokade rezim sejak April 2013.
Abu Kamal, seorang komandan oposisi lokal, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa 85 persen kematian yang terjadi baru-baru ini di kota itu disebabkan oleh serangan yang dilakukan pasukan rezim Nushairiyah atau oleh “Daulah”.
Kota Al-Dumayr, terletak sekitar 40 kilometer di timur laut Damaskus, juga masih berada di bawah blokade yang dilakukan rezim.
Ghouta Timur, Al-Tall
Wilayah Ghouta Timur hingga timur Damaskus, sementara itu, telah berada di bawah pengepungan rezim Nushairiyah sejak Desember 2012. Pengepungan tersebut telah menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan dan hilangnya pasokan listrik dan air di wilayah itu.
Menurut sebuah komite koordinasi lokal di daerah Douma Ghouta Timur, sekitar 1.600 warga setempat baru-baru ini meninggal, dengan perkiraan 40 persen dari korban meninggal dalam serangan udara rezim dan sisanya meninggal akibat kekurangan gizi.
Rezim brutal Asad menyerang wilayah Ghouta Timur dengan gas sarin pada bulan Agustus tahun 2013, hingga menyebabkan terbunuhnya sekitar 1.300 penduduk setempat.
Kota Al-Tall, sementara itu, terletak di sebelah barat Ghouta Timur, juga masih berada di bawah pengepungan rezim sejak Juni 2015.
Kamp Yarmouk, Darayya, Muadamiyat Al-Sham, Kanaker
Kamp Yarmouk yang dihuni pengungsi Palestina telah diblokade oleh rezim sejak Desember 2012.
Banyak penduduk kamp, yang dikepung oleh “Daulah” dari selatan, baru-baru ini pindah ke provinsi Hatay Turki atau ke provinsi-provinsi Suriah seperti Hama, Idlib dan Aleppo.
Lebih dari 1.000 warga sipil telah terbunuh di kamp itu sejak konflik Suriah dimulai pada awal tahun 2011.
Darayya di pinggiran selatan Damaskus juga telah berada di bawah blokade rezim Nushairiyah sejak akhir 2012. Pada bulan Juli 2015, ketika pengepungan memasuki hari ke-1000, sekitar 2200 warga telah meninggal sebagai akibat dari pengepungan atau dari serangan yang dilakukan oleh rezim .
Sumber-sumber lokal mengatakan sekitar 1.000 bom barel – alat peledak improvisasi – telah dijatuhkan di wilayah tersebut oleh rezim Asad.
Di kota Muadamiyat Al-Sham di barat daya Damaskus, sementara itu, sekitar 40.000 warga sipil berada di bawah pengepungan total selama 15 hari terakhir.
Dengan tidak diizinkannya makanan memasuki kota, warga mengatakan jumlah kematian anak telah meroket karena tingginya angka kekurangan gizi.
Desa Kanaker, sementara itu, yang terletak sebelah barat daya Damaskus, telah terkepung sejak Maret 2015.
Al-Waer, Houla, Talbiseh, Al-Rastan
Al-Waer, sebuah distrik di pusat provinsi Homs Suriah, juga dilaporkan masih berada di bawah blokade rezim Asad.
Selama pengepungan Homs sejak 2011 hingga 2015, yang berakhir dengan diserahkannya daerah itu kepada rezim Asad, sekitar 150 orang meninggal karena kekurangan gizi dan kurangnya perawatan medis.
Menurut Pusat Koordinasi Homs, beberapa daerah Al-Waer masih dikepung.
Wilayah Houla, Talbiseh dan Al-Rastan di Homs utara, semuanya telah berada di bawah pengepungan selama tiga tahun terakhir.
Madaya
Duta Besar Spanyol untuk PBB Romawi Oyarzun Marchesi baru-baru ini mengutip Kepala urusan kemanusiaan PBB Stephen O’Brien mengatakan bahwa sekitar 400 orang di kota Madaya berada dalam situasi yang sangat kritis.
Minggu ini, sebuah konvoi bantuan kemanusiaan dilaporkan memasuki kota itu, membawa makanan dan obat-obatan untuk 42.000 warga Mdaya yang terancam mati kelaparan.
Bulan lalu, 23 orang, termasuk enam anak, meninggal karena kelaparan di kota itu, menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh panitia kesehatan lokal Madaya.
“Krisis kemanusiaan di Madaya merupakan salah satu tanda dari kebrutalan rezim Asad,” tegas Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power dalam sebuah pernyataan baru-baru ini. “Pemblokiran bantuan untuk warga sipil yang kelaparan adalah hal yang aneh, dan merupakan satu lagi alasan mengapa pendukung Asad harus mengakui bahwa ia telah kehilangan legitimasi.”
Konflik yang terjadi di Suriah, yang memasuki tahun keenam pada awal 2016, telah merenggut lebih dari 250.000 nyawa dan mengubah negara itu menjadi sumber pengungsi dan orang terlantar terbesar di dunia, menurut PBB.
Sejak konflik dimulai, hampir 8 juta orang telah mengungsi, sementara lebih dari 4 juta lainnya telah menyelamatkan diri ke negara-negara tetangga.
(banan/arrahmah.com)

Penduduk di Madaya, Syria menderita akibat kebuluran - MLLFS

Penduduk di Madaya, Syria menderita akibat kebuluran - MLLFS
Kebuluran di Madaya terus mendapat perhatian media - Foto MLLFS
KUALA LUMPUR: Penduduk Syria di Madaya didakwa menderita akibat kebuluran sejak tujuh bulan lalu.

Ketua Pegawai Eksekutif Malaysia Life Line for Syria (MLLFS), Syahrir Azfar Saleh dalam kenyataannya pada Khamis memberitahu, pihaknya kini mengikuti rapat perkembangan rakyat Syria di Madaya.

"Laporan yang kami dapat Madaya telah dikepung tentera Assad dan Hizbullah sejak tujuh bulan lepas yang menyebabkan segala bentuk makanan dan bantuan disekat. Mereka kini menderita akibat kebuluran.

"Dalam laporan sama kami diberitahu terdapat periuk api ditanam di sekitar kawasan tersebut bagi menghalang penduduk keluar menyelamatkan diri," katanya.

Selain itu, beberapa foto yang menunjukkan penderitaan rakyat Syria di Madaya terpaksa merebus daun sebagai bahan makanan untuk mereka.

Dengan kehadiran musim sejuk, derita yang dialami mereka semakin kritikal.

Tambah Syahrir, beliau menggesa masyarakat dan pemimpin dunia bangkit menyatakan bantahan terhadap tindakan tersebut.

"Tindakan yang menyebabkan kebuluran ini melanggar Peraturan ke-53 dalam Undang-Undang Kemanusiaan Antarabangsa yang menyebut dengan jelas penggunaan kaedah 'starvation' dalam peperangan adalah dilarang dan sekatan kepada penggunaan periuk api juga disebutkan dalam peraturan ke-81 undang-undang yang sama.
"MLLFS sedang mendapatkan beberapa maklumat lanjut daripada NGO yang berada di Lubnan mengenai usaha yang boleh digerakkan untuk membawa bantuan masuk ke Madaya, Syria melalui sempadan Lubnan-Syria," jelasnya.

Katanya lagi, mana-mana individu yang ingin menyalurkan bantuan misi kecemasan MLLFS pada musim sejuk pertengahan Januari boleh terus menghubungi mereka melalui laman Facebookwww.facebook.com/MLL4S/

http://www.astroawani.com/berita-dunia/penduduk-di-madaya-syria-menderita-akibat-kebuluran-mllfs-88565

Jumlah pelarian dunia kini mencecah 244 juta orang




AFP - SEBUAH keluarga daripada etnik Kurdish kelihatan berlindung di khemah pelarian di Gande-Synthe dekat Dunkirk, selatan Perancis kelmarin.


NEW YORK – Jumlah keseluruhan pelarian antarabangsa mence­cah 244 juta tahun lepas, meningkat sebanyak 41 peratus berbanding tahun 2000, kata Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) dalam satu laporan kelmarin.
Laporan yang merupakan semakan terkini dua tahun sekali tentang trend migrasi mendapati jumlah orang yang berpindah ke negara lain secara sukarela atas sebab ekonomi atau konflik meningkat sebanyak 71 juta sejak tahun 2000.
Angka itu termasuk 20 juta pelarian seluruh dunia yang terpaksa berpindah akibat kon­flik, dengan kebanyakan mereka dari Syria, Afghanistan dan Somalia.
Kira-kira satu pertiga atau 76 juta imigran seluruh dunia tinggal di Eropah termasuk 12 juta di Jerman dan sembilan juta di Britain.
Amerika Syarikat pula mempunyai populasi imigran terbesar sebagai sebuah negara dengan 47 juta orang. Sementara itu, Rusia dan Arab Saudi ma­sing-masing mempu­nyai 12 juta dan 10 juta penduduk asing.
Timbalan Setiausaha Agung PBB, Jan Eliasson berkata, negara-negara di dunia perlu mewujudkan polisi migrasi yang memudahkan pergerakan selamat dan teratur merentasi sempadan selain menggesa sifat saling menghormati antara kumpulan imigran dan masyarakat tempatan.
Menurutnya, krisis pelarian di Eropah telah mewujudkan ketakutan dan kebencian dalam kalangan penduduk tempatan yang perlu diatasi dengan sumbangan positif oleh kumpulan imigran.
“Kami perlu memastikan bahawa kami berurusan dengan isu yang akan mengubah landskap antarabangsa,” kata Eliasson. – dpa


Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2016&dt=0114&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_05.htm#ixzz3xBtocNUo 
Hakcipta terpelihara 

Lebih ramai akan mati kebuluran


AFP - IMEJ yang dikeluarkan oleh Jawatankuasa Palang Merah Antarabangsa (ICRC) ini menunjukkan sebahagian konvoi bantuan kemanusian yang bersiap sedia masuk ke bandar Madaya di Syria kelmarin.


PERTUBUHAN BANGSA-­BANGSA BERSATU (PBB) – Pegawai bantuan tertinggi Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) di Syria memberi amaran kelmarin bahawa lebih ramai akan mati melainkan tentera kerajaan dan pemberontak menarik balik pengepungan di beberapa bandar di negara itu.
“Keadaan ini perlu dihentikan. Lebih ramai lagi akan mati jika dunia tidak bertindak cepat,” kata Penyelaras Kemanusiaan PBB untuk Syria, Yacoub El Hillo.
Pegawai PBB itu berucap sehari selepas konvoi bantuan menghantar bekalan buat kali pertama dalam masa tiga bulan tiba ke bandar Madaya yang dikepung oleh tentera kerajaan di bawah Presiden Bashar Al-Assad.
Menurut sebuah badan amal perubatan, MSF sebanyak 28 orang telah meninggal dunia akibat kebuluran di Syria sejak 1 Disember lalu.
El Hillo berkata, dia melihat masyarakat di Madaya mengalami kekurangan nutrisi yang teruk terutamanya kanak-kanak yang sangat kurus sehingga tinggal tulang selepas tentera kerajaan mengepung kawasan berkenaan selama enam bulan.
“Kami melihat orang awam tidak mempunyai makanan untuk satu tempoh masa yang lama,” katanya kepada pemberi­ta ketika bercakap menerusi te­lefon dari Damsyik.
El Hillo memohon tindakan PBB untuk menamatkan pengepungan dengan menggambarkan sekatan itu sebagai punca utama kepada penderitaan penduduk Syria.
PBB dalam pada itu berkata, pihaknya sedang berusaha menyampaikan bantuan kepada kira-kira 4.5 juta rakyat Syria yang tinggal di kawasan terpencil termasuk hampir 400,000 orang di 15 kawasan dikepung.
Majlis keselamatan PBB telah menerima pakai resolusi yang mendesak penamatan sekatan, namun diabaikan oleh pihak yang berkonflik.
Rundingan sedang dijalankan bagi memindahkan 400 rakyat Syria, kebanyakannya wanita dan kanak-kanak dari sebuah hospital di Madaya dan membawa klinik bergerak untuk menyediakan perkhidmatan rawatan, kata El Hillo.
Pesakit-pesakit mungkin dibawa ke hospital di Damsyik bagi menerima bantuan perubatan segera, katanya.
“Saya mempunyai alasan yang kukuh bahawa tindakan ini perlu dilakukan,” tambahnya.
Selepas beberapa bulan run­dingan, PBB dan rakan bantuan­nya pada Isnin lalu berupaya menghantar 65 trak penuh dengan makanan, bantuan perubatan, selimut dan pakaian musim sejuk kepada penduduk Madaya yang terperangkap selain dua lagi bandar iaitu Fuaa dan Kafraya.
Penghantaran bantuan itu berjaya dihantar menjelang pusingan baharu rundingan damai Syria yang dirancang pada 25 Januari ini di Geneva.
Lebih 260,000 penduduk terbunuh di Syria sejak konflik yang bermula dengan demons­trasi antikerajaan berlaku pada Mac 2011. – AFP


Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2016&dt=0114&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_04.htm#ixzz3xBtdGVzc 
Hakcipta terpelihara 

Pindah atau roboh

Calais (Perancis): Kerajaan Perancis memberi masa dua hari kepada 1,500 pendatang yang enggan berpindah dari kawasan ‘Calais Jungle’ (Hutan Calais) sebelum merobohkan sepertiga kem pelarian itu jika tetap enggan berpindah ke perumahan dibina kerajaan.
Penghuni kem itu menolak penempatan baru yang bernilai £20 juta (RM126.55 juta), direka untuk menempatkan 1,500 pelarian di dalam kontena yang diubah suai dengan bekalan air dan elektrik kerana mendakwa ia kelihatan seperti penjara.
Bagaimanapun, polis Perancis memberi masa sehingga malam tadi (waktu tempatan) untuk mengosongkan khemah mereka sebelum dirobohkan oleh jentolak hari ini.
‘Ketua masyarakat’ bagi golongan itu sebelum ini mengeluarkan kenyataan menolak dengan baik arahan kerajaan itu untuk mengosongkan sepertiga kem pelarian berkenaan.
“Kami, dengan hormatnya menolak permintaan kerajaan Perancis yang mahu mengecilkan saiz kem.
“Kami merayu pihak berkuasa Perancis dan masyarakat antarabangsa memahami keadaan ini serta menghormati hak asasi kami,” kata mereka.
Kem baru itu diperbuat daripada kontena besi yang diubah suai menjadi rumah selesa, dilengkapi alat pemanas, tandas dan kemudahan membasuh.
Artikel ini disiarkan pada : Khamis, 14 January 2016 @ 10:31 AM

KEADAAN kem pelarian di Calais dengan kediaman baru dibina kerajaan di latar belakangnya.

PBB beri amaran lebih ramai akan mati


Pihak bertelagah Syria dirayu henti kepungan

seorang lelaki hidup ibarat bangkai bernyawa akibat krisis kebuluran

seorang lelaki hidup ibarat bangkai bernyawa akibat krisis kebuluran di Madaya, Syria. REUTERS
NEW YORK 13 Jan. - Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) semalam memberi amaran, lebih banyak penduduk akan mati di Syria jika kerajaan dan kumpulan penentang tidak berundur daripada mengepung bandar-bandar di negara itu.
Penyelaras kemanusiaan PBB untuk Syria, Yacoub El Hillop berkata, keadaan buruk itu boleh berlaku jika masyarakat dunia gagal mengambil tindakan pantas.
“Kepungan mesti dihentikan,” tegas beliau sehari selepas konvoi bantuan menghantar bekalan pertama dalam tempoh tiga bulan ke bandar-bandar terbabit termasuk Madaya.
Sebanyak 28 orang maut di Madaya akibat kebuluran sejak 1 Di­sember lalu.
Mengulas tentang kebuluran di Madaya yang terkepung selama enam bulan oleh tentera Syria, beliau berkata, penduduk di sana terutamanya kanak-kanak terlalu kurus seperti rangka bernyawa akibat kekurangan makanan.
“Kami dapat melihat orang yang tidak makan dalam satu tempoh yang lama,’’ katanya.
Yacoub turut merayu PBB memainkan peranan untuk menghentikan kepungan terbabit yang menjadi faktor utama kepada ke­sengsaraan penduduk dan satu taktik perang digunakan kedua-dua pihak bertelagah dalam konflik yang bermula sejak lima tahun itu.
Menurut PBB, pihaknya kini berusaha untuk menghantar bekalan kepada 4.5 juta penduduk Syria yang berada di kawasan terpencil termasuk 400,000 orang yang berada di 15 kawasan yang dikepung.
Majlis Keselamatan PBB meluluskan resolusi menggesa penamatan kepungan berkenaan namun setakat ini, pihak-pihak bertelagah tidak menghiraukannya. – AFP
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/pbb-beri-amaran-lebih-ramai-akan-mati-1.179385#sthash.wuQIvpZq.dpuf

Wednesday, 13 January 2016

Rusuhan bantah pelarian

Berlin: Perusuh antipelarian mengamuk di Leipzig, selepas melakukan bantahan mendesak supaya pendatang dihantar pulang dan sempadan Jerman ditutup.
Beberapa jam selepas Canselor Angela Merkel mengakui Eropah semakin hilang kawalan terhadap krisis pendatang, kumpulan berhaluan kanan meninggalkan tunjuk perasaan aman diadakan di bandar di timur Jerman itu sebelum melakukan keganasan di bandar kecil Connewitz.
Kira-kira 250 samseng anggota LEGIDA - cawangan tempatan PEGIDA - merosakkan gerai kebab selain membakar kereta dan memecahkan tingkap kedai. PEGIDA ialah kumpulan antipelarian dan anti-Kesatuan Eropah (EU) yang sebelum itu berarak membantah kehadiran pelarian.
Penunjuk perasaan yang turut menyerangb polis dengan mercun, cuba membina sekatan di tengah jalan utama menggunakan papan tanda jalan dan batu turap sebelum berjaya disuraikan.
Bomba juga dikerahkan memadamkan kebakaran di loteng sebuah bangunan akibat terkena mercun dilepaskan perusuh.
Sebuah bas membawa penunjuk perasaan yang propelarian juga diserang dan dirosakkan.
Polis berkata, 211 perusuh dikenal pasti sebagai samseng berhaluan kanan, ramai yang mempunyai rekod jenayah kerana bersikap ganas.
Jurucakap polis berkata: “Perbuatan ini mengganggu keamanan.”
Dia turut mengesahkan beberapa anggota polis cedera dalam pertempuran yang meletus akibat kemarahan susulan serangan seksual besar-besaran yang dilakukan pendatang terhadap wanita di Cologne serta di bandar Jerman lain.
Antara sepanduk dibawa penunjuk perasaan semalam tertulis kata-kata ‘Rape Refugees stay away’ (Usir pelarian perogol) yang turut memaparkan lukisan wanita yang lari dari penyerang bersenjatakan pisau.
Sebelum itu, Angela berkata: “Tiba-tiba kita berdepan cabaran dalam menangani isu pelarian di Eropah kerana masih tidak cukup aturan dan kawalan sepenuhnya seperti dikehendaki.” - Agensi
Artikel ini disiarkan pada : Rabu, 13 January 2016 @ 10:23 AM


ANGGOTA pergerakan anti-Islam menunjuk perasaan di Leipzig bagi mendesak kerajaan Jerman mengusir pendatang Islam.
- See more at: http://www.hmetro.com.my/node/106929#sthash.kZcqVQow.dpuf

Ratusan rakyat Syria perlu rawatan segera

Ratusan rakyat Syria perlu rawatan segera

13 JANUARI 2016

Puluhan kotak bekalan bantuan dibawa keluar dari lori di sebuah gudang di Idlib, dekat barat laut Syria. - Foto: AFP

NEW YORK - AMERIKA SYARIKAT. Sekurang-kurangnya 400 rakyat Syria perlu segera dipindahkan dari Madaya untuk menerima rawatan perubatan.
Menurut Duta Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB), usaha itu perlu selepas konvoi bantuan menyampaikan bekalan pertama ke situ.
PBB telah meminta Kerajaan Syria membenarkan 400 rakyatnya keluar dari Madaya melalui udara, di mana anggota perubatan agensi sukarela Doctors Without Borders (MSF) memberitahu, seramai 28 orang meninggal dunia akibat kebuluran sejak 1 Disember lalu.
"Mereka perlu dipindahkan malam ini (kelmarin) untuk dirawat dengan segera dan mahu kebenaran daripada Kerajaan Syria untuk membawa semua mangsa keluar," menurut Duta New Zealand, Gerard van Bohemen.
Sementara itu, Duta Sepanyol Roman Oyarzun berkata, 15 anggota majlis dimaklumkan oleh Ketua bantuan PBB, Stephen O’Brien bahawa 400 rakyat Syria berkenaan dalam kondisi yang sangat kritikal dan keadaan akan menjadi lebih buruk jika tidak dipindahkan segera.
Difahamkan, beberapa jam sebelum itu konvoi 44 trak penuh dengan bekalan makanan, susu bayi, selimut dan bekalan lain telah memasuki Madaya, yang berada dalam kepungan tentera Presiden Bashar al-Assad selama enam bulan.
Menurut PBB lagi, pihaknya menghadapi kesukaran untuk menyampaikan bantuan kepada kira-kira 4.5 juta rakyat Syria yang tinggal di kawasan sukar dimasuki termasuk hampir 40,000 di 15 kawasan dikepung. - AFP

28 mati kebuluran di Madaya


AFP - SEJUMLAH kenderaan menunggu di pinggir bandar Madaya, Syria untuk menghantar bekalan makanan kepada penduduk yang kebuluran akibat peperangan.


MADAYA – Konvoi lori pertama yang membawa bantuan kemanusiaan memasuki bandar Madaya di Syria kelmarin di mana lebih 24 orang dilaporkan mati akibat kebuluran.
Bandar itu masih dikepung oleh tentera rejim Presiden Bashar Al-Assad.
Pertubuhan Bulan Sabit Merah Arab Syria (SARC) berkata, dua lori yang sarat membawa makanan dan selimut memasuki Madaya lewat tengah hari, manakala tiga lori lain masuk ke bandar Fuaa dan Kafraya yang dikuasai tentera Bashar.
“Operasi bantuan sudah bermula dan dijangka berterusan selama beberapa hari. Ini merupakan perkembangan yang amat positif,” kata ketua delegasi Jawatankuasa Palang Merah Antarabangsa (ICRC) ke ­Syria, Marianne Gasser.
SARC, ICRC dan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu melalui Prog­ram Makanan Sedunia cuba menghantar bekalan ke Madaya selepas mendapat kebenaran rejim Bashar pada Khamis lalu.
Penghantaran itu dibuat selepas masyarakat antarabangsa bimbang dan mengecam keadaan daif di Madaya apabila kira-kira 42,000 orang tinggal dalam kepungan oleh tentera kerajaan Syria.
“Selama 25 hari, kami hanya makan sup. Saya melihat seorang belia membunuh beberapa ekor kucing dan memberitahu keluarganya bahawa dia memburu arnab.
“Sebahagian penduduk menyelongkar tong sampah, manakala sebilangan lagi memakan rumput. Kami meminta makanan daripada penentang Bashar tetapi mereka enggan memberikannya,” kata seorang remaja Madaya berumur 17 tahun, Hiba Abdel Rahman.
Sejak 1 Disember lalu, seramai 28 orang meninggal dunia akibat kebuluran di Madaya. – AFP


Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2016&dt=0113&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_04.htm#ixzz3x5zuuuVB 
Hakcipta terpelihara 

Syria perlu wujud perlembagaan baharu – Putin


REUTERS - ANGGOTA pertahanan awam kelihatan memeriksa bangunan yang rosak teruk selepas serangan udara yang dilancarkan oleh tentera Rusia di bandar Douma, timur Ghouta, Damsyik, Syria pada Ahad lalu.


MOSCOW – Presiden Rusia, Vladimir Putin mahu Syria memulakan usaha mewujudkan sebuah perlembagaan baharu sebagai langkah pertama ke arah penyelesaian politik berhubung perang saudara di negara itu, namun beliau akur proses tersebut adalah sukar.
Putin sebelum ini memberi sokongan kepada rejim Pre­siden Bashar Al-Assad dengan me­lancarkan serangan udara ke atas pemberontak Syria.
Dalam satu wawancara dengan akhbar Jerman, Bild, Putin berkata, usaha ke arah perdamaian di Syria menjadi lebih sukar ekoran konfrontasi antara Arab Saudi dan Iran.
“Saya percaya pembaharuan perlembagaan diperlukan di Syria. Ia proses sukar, sudah tentu. Selepas itu, Syria perlu mengadakan pilihan raya Presiden dan Parlimen lebih awal,” kata Putin dalam temu bual itu yang diadakan pada 5 Januari lalu.
Dalam wawancara sama, Putin memberitahu, sengketa antara Arab Saudi dan Iran berhubung pelaksanaan hukuman mati ke atas ulama Syiah, Nimr Al-Nimr oleh Riyadh pada 2 Januari lepas akan menyukarkan usaha untuk mencari jalan bagi menamatkan konflik di Syria.
“Sekiranya penglibatan kami (Rusia) diperlukan, kami bersedia melakukan apa sahaja supaya konflik di Syria dapat diselesaikan secepat mungkin,” katanya. – Reuters


Artikel Penuh: http://www.kosmo.com.my/kosmo/content.asp?y=2016&dt=0113&pub=Kosmo&sec=Dunia&pg=du_02.htm#ixzz3x5zYYaY8 
Hakcipta terpelihara 

Tunggu pengesahan identiti pengebom berani mati


KHALID ABU BAKAR (tengah) memeriksa kawalan kehormat dalam majlis perhimpunan bulanan di Bukit Aman,

KHALID ABU BAKAR (tengah) memeriksa kawalan kehormat dalam majlis perhimpunan bulanan di Bukit Aman, Kuala Lumpur, semalam. – BERNAMA
KUALA LUMPUR 12 Jan. – Polis sedang menunggu laporan rasmi mengenai pengesahan identiti dua rakyat Malaysia yang dipercayai terlibat dalam insiden pengeboman berani mati di Iraq dan Syria pada minggu lalu.
Ketua Polis Negara, Tan Sri Khalid Abu Bakar berkata, walaupun sebanyak 45 peratus kemungkinan bahawa rakyat negara ini terlibat dalam insiden yang mengakibatkan kira-kira 30 orang mangsa terkorban, namun pengesahan rasmi perlu dibuat.
“Apa yang kita risau dan khua-tiri jika terdapat pihak lain yang menggunakan identiti rakyat negara kita.
“Kita akan terus memantau kegiatan kumpulan militan membabitkan rakyat negara ini kerana terdapat lagi rakyat Malaysia yang masih berada di sana, ” katanya selepas Perhimpunan Bulanan Semua Jabatan Peringkat Bukit Aman di Ibu Pejabat Bukit Aman di sini hari ini.
Akhbar semalam melaporkan, dua rakyat Malaysia meletupkan diri mereka sendiri sehingga menyebabkan lebih 30 orang di Syria dan Iraq maut minggu lepas.
Mohd. Amirul Ahmad Rahim, 26, yang berasal dari Terengganu, meletupkan bom dipasang pada badannya dalam sebuah kereta semasa pertempuran di kubu kumpulan pengganas Negara Islam (IS) di Raqqa, Syria, pada 29 Disember lalu.
Seorang lagi rakannya, Mohamad Syazwan Mohd Salim, 31, merupakan seorang daripada tujuh pengebom berani mati yang menyusup ke pusat latihan polis di pangkalan tentera Speicher, kira-kira 160 kilometer ke utara Baghdad, Iraq pada 3 Januari lepas.
- See more at: http://www.utusan.com.my/berita/jenayah/tunggu-pengesahan-identiti-pengebom-berani-mati-1.179107#sthash.rUD5YRma.dpuf

Bantuan tiba di Madaya


Legakan lebih 40,000 penduduk yang kelaparan akibat dikepung

KONVOI kenderaan bantuan berhenti di pinggir bandar Madaya, Syria, kelmarin untuk menghantar bantuan makanan kepada penduduk yang kelaparan akibat dikepung selama enam bulan oleh tentera kerajaan. AFP
DAMSYIK 12 Jan. - Trak pertama membawa bantuan kemanusiaan mula memasuki bandar Madaya yang terkepung lebih enam bulan, semalam ketika Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) menggesa ratusan penduduk di kawasan itu dipindahkan bagi mendapatkan rawatan perubatan.
Menurut Persatuan Bulan Sabit Merah Syria, sebanyak 44 buah trak penuh dengan makanan dan pelbagai bantuan lain memasuki bandar itu yang dikuasai kumpulan penentang kerajaan, lewat malam tadi.
Sebanyak 21 buah trak lagi dilihat menuju bandar Fuaa dan Kafraya yang dikuasai kerajaan.
Wanita dan kanak-kanak yang berdepan cuaca sejuk menunggu kedatangan konvoi trak yang membawa bekalan penting di dalam pekat malam selepas enam bulan mereka dikepung tentera Presiden Bashar al-Assad.
“Kanak-kanak kami sedang kelaparan dan tubuh kami sedang menggeletar. Kami tidak mempunyai makanan mahupun roti.
“Tiada bekalan air, elektrik, mahupun pemanas badan. Kanak-kanak kami menangis sepanjang malam selepas kami tidak menemui sebarang makanan untuk diberikan kepada mereka,” kata seorang penduduk, Ghaitha Assad, 27 tahun.
Program Makanan Dunia PBB berkata, bantuan makanan itu dapat menampung keperluan lebih 40,000 penduduk dalam tempoh sebulan, manakala Jawatankuasa Palang Merah Antarabangsa (ICRC) mendakwa mereka membawa bekalan ubat yang dapat bertahan selama tiga bulan.
“Saya melihat seorang remaja lelaki membunuh kucing dan membawa daging itu kepada keluarganya dengan mendakwa itu adalah daging arnab,” kata seorang penduduk, Hiba Abdel Rahman.
Hiba berkata, ada antara penduduk menguis tong sampah dan makan rumput untuk meneruskan kehidupan termasuk meminta makanan itu daripada anggota pemberontak, namun mereka menolak.
Kira-kira 28 orang penduduk Madaya dilapor maut akibat kebuluran sejak 1 Disember lalu termasuk lima orang, kelmarin, menurut laporan Doktor Tanpa Sempadan yang dikenali dengan akronim Perancis, MSF.
PBB sementara itu meminta tentera kerajaan dan kumpulan penentang membenarkan sebanyak 400 orang penduduk Madaya dipindahkan dari bandar itu akibat kekurangan zat untuk diberi rawatan perubatan segera.
ICRC Syria pula menyifatkan operasi mereka di bandar itu akan memakan masa selama beberapa hari selepas melihat keadaan menyayat hati di bandar tersebut. – AFP

Tuesday, 12 January 2016

Penduduk Madaya Mati Perlahan-Lahan Kerana Kebuluran


Penduduk dalam bandar Madaya di Syria yang terletak beberapa kilometer dari ibu negara, Damaskus, mengatakan mereka hampir mati kerana kebuluran akibat sekatan selama beberapa bulan yang dilakukan oleh pasukan yang setia kepada pemerintah Bashar al-Assad.


Banyak keluarga yang terpaksa memakan daun-daun, rumput-rumput dan air yang dimasak dengan rempah-rempah, serta beras di jual per gram kerana harga satu kilogram beras adalah $250 (lebih kurang Rm1100). Beberapa orang telah terkorban dan terpaksa memakan haiwan peliharaan mereka.

“Orang ramai terkorban sedikit demi sedikit,” kata Louay, seorang pekerja sosial dari bandar itu memberitahu Guardian dalam sebuah temubual telefon, suaranya lemah kerana telah berbulan-bulan kelaparan.

Mereka yang masih boleh bergerak, dan biasanya ada di sekolah, mempertaruhkan nyawa mereka ketika berusaha mengumpulkan tanaman yang tumbuh di ladang di kawasan pinggir bandar, dan beberapa orang telah kehilangan anggota badan, kata para penduduk.

Hingga kini terdapat 30,000 orang telah terperangkap di dalam bandar Madaya sejak bulan Julai, di bawah pengepungan ketat pasukan pro-pemerintah.

Orang ramai di setiap penjuru bandar yang terkepung menderita dalam tragedi yang tidak dilakukan oleh mereka.

“Kami telah sering kali meminta pertolongan tetapi tidak ada seorang pun yang mendengarkan kami.”

Sumber: rz/theguardian,7/1/2016